“Akibatnya, minuman itu berubah menjadi zat beracun,” ujarnya kepada Reuters.
Nada prihatin juga datang dari Nadia al-Hamdan, profesor di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Kuwait, yang menyebut jumlah korban tewas kali ini sebagai “sangat besar.”
Ia mendesak Kementerian Dalam Negeri untuk segera melacak sumber utama pembuatan miras oplosan ini dan menjatuhkan hukuman tegas kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Larangan yang Dilanggar Diam-Diam
Kuwait sendiri memiliki larangan ketat terhadap alkohol. Tidak boleh diproduksi, dijual, maupun masuk ke wilayah negara tersebut. Namun, kenyataannya, sebagian pihak masih menjalankan produksi minuman keras secara sembunyi-sembunyi di lokasi rahasia tanpa standar keselamatan.
Ketiadaan pengawasan dan kontrol kualitas membuat risiko bagi konsumen semakin tinggi — dan insiden kali ini menjadi bukti nyata bahwa pelanggaran tersebut dapat berakhir tragis.***




