KITAINDONESIASATU.COM – Penyerangan brutal terhadap guru dan tenaga kesehatan yang terjadi di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua, pada 21 dan 22 Maret 2025, telah mengguncang nurani bangsa.
Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) OPM diduga menjadi pelaku dalam insiden ini, yang menewaskan seorang guru berdedikasi, Rosalia Rerek Sogen, dan melukai enam rekannya.
Rosalia adalah sosok pendidik yang dikenal sederhana, cerdas, dan penuh dedikasi. Lulusan Matematika FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang ini telah mengabdikan diri sebagai guru sejak tahun 2021 di Distrik Anggruk. Ia berasal dari Larantuka, NTT, dan dikenal luas sebagai teladan di kalangan pendidik di pedalaman Papua.
“Kami semua sangat kehilangan. Rosalia bukan sekadar guru, ia simbol ketulusan dan pengabdian,” ungkap salah satu rekannya yang turut menjadi korban luka dalam insiden tersebut, sebagaimana dikutip dari laman resmi TNI, Selasa 8 Juli 2025.
TNI Tegaskan Para Guru dan Nakes Bukan Bagian dari Satgas TNI
Menanggapi beredarnya isu yang menyebut para guru dan tenaga kesehatan terkait dengan aparat militer, Kapuspen TNI Mayjen TNI Kristomei Sianturi memberikan klarifikasi tegas bahwa seluruh tenaga profesional tersebut murni warga sipil dan tidak memiliki kaitan organisasi dengan Satgas TNI.
“Para guru dan tenaga kesehatan di Distrik Anggruk serta wilayah Yahukimo lainnya bukan anggota TNI ataupun bagian dari Satgas. Mereka adalah profesional yang menjalankan tugas untuk kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan,” tegasnya di Mabes TNI, Cilangkap.
Yayasan Serafim dan Pemkab Yahukimo Perkuat Klarifikasi
Yayasan Serafim yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Yahukimo juga menegaskan hal serupa.



