KITAINDONESIASATU.COM – Dunia penerbangan internasional mengalami guncangan hebat menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Tercatat sedikitnya 19.000 jadwal penerbangan menjadi kacau akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dilancarkan pada akhir Februari 2026.
Serangan bertajuk “Epic Fury” tersebut memaksa sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Iran, Irak, dan beberapa negara tetangga, untuk menutup ruang udara mereka demi alasan keamanan. Akibatnya, ribuan pesawat harus mengubah rute secara mendadak, melakukan pendaratan darurat di negara ketiga, atau membatalkan keberangkatan sama sekali.
Dampak dari kekacauan ini dirasakan langsung oleh jutaan penumpang. Bandara-bandara besar seperti di Dubai, Doha, dan Istanbul dilaporkan dipenuhi oleh penumpang yang terlantar. Banyak dari mereka tertahan selama puluhan jam tanpa kepastian keberangkatan karena penumpukan jadwal (backlog) yang luar biasa.
Para maskapai penerbangan kini harus bekerja ekstra keras untuk mengatur ulang jadwal dan menyediakan kompensasi. Krisis ini diperkirakan tidak hanya berdampak pada mobilitas manusia, tetapi juga menghambat jalur logistik udara global, yang berpotensi memicu kenaikan biaya pengiriman barang internasional dalam beberapa pekan ke depan.
Tiga maskapai utama di kawasan Teluk, yakni Emirates, Etihad, dan Qatar Airways, biasanya melayani sekitar 90.000 penumpang per hari yang melintasi pusat-pusat penerbangan tersebut, bahkan lebih banyak lagi pelancong yang menuju berbagai tujuan di Timur Tengah, menurut Cirium.
Pejabat di Bandara Internasional Dubai, bandara terbesar di UEA dan salah satu yang tersibuk di dunia, menyatakan empat orang terluka. Sementara itu, Bandara Internasional Zayed melaporkan satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka akibat serangan pesawat tak berawak.(*)


