Harian de Indische Courant (22 Agustus 1933) menuliskan, pejabat Hindia Belanda memberikan tiga rumah besar di Bandung sebagai hunian Paribatra. Kelak, hunian tersebut dimanfaatkan sang pangeran untuk menyalurkan kegiatan terpendamnya: jadi tukang kebun.
Peneliti sejarah Bandung Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986) menceritakan, di rumah barunya Paribatra menjadi ahli tanaman anggrek.
Sehari-hari dia menjadi tukang kebun hingga sukses membangun taman indah berbunga di depan rumah. Dari kebun itu pula, Paribatra memperkenalkan bibit anggrek yang kelak disebarluaskan di kawasan Bandung. Mengutip majalah Mooi Indie (1937), dia rela menjadi tukang kebun karena merasa Bandung masih miskin bunga-bunga.
Selain berkebun, Paribatra juga hobi berwisata ke Jawa, Sumatera, dan Bali. Setiap kali berlibur, jejak langkah Paribatra selalu jadi sorotan banyak media. Sepanjang 1933-1938, tercatat dia mengunjungi Malang, Surabaya, Yogyakarta, Bali, Kediri, Bogor, Medan dan sebagainya. Biasanya, Paribatra datang bersama rombongan dan menginap di hotel selama berhari-hari.
Saat mengunjungi Malang, misalnya, koran Soerabaijasch handelsblad (15 Juni 1937) melaporkan, dia dan 12 orang lain diberi fasilitas hotel oleh pejabat lokal. Kemudian, mereka diajak jalan-jalan ke tempat wisata. Atau terkadang juga dia melakukan napak tilas ke beberapa wilayah yang pernah dikunjungi Rama V di Hindia Belanda.
Hidup Paribrata Sukhumbandhu berakhir pada 18 Januari 1944. Dia wafat diusia 62 tahun dan dimakamkan di Bandung. Akan tetapi, pada 1948 jenazah Paribrata dipulangkan ke tanah kelahirannya untuk dikremasi di Istana Raja Bangkok.
Naik Kapal Sibayak
Paribatra meninggalkan negerinya dan pada 5 Juli 1932 diberitakan sudah berada di Penang dan berencana melanjutkan perjalanannya ke Hindia Belanda, sebelum kemudian pergi ke Eropa. Setelah singgah di Singapura pada 15 Juli 1932, Paribatra dikabarkan sudah berada di Pelabuhan Belawan pada 23 Juli 1932 seperti diwartakan Koran Soerabaijahsch Handelsblad.


