KITAINDONESIASATU.COM – Sosok Dewi Astutik (42) viral di media sosial setelah kembali disebut sebagai buronan Badan Narkotika Nasional (BNN), yang disebut sebagai aktor penyelundupan 2 ton sabu di Kepulauan Riau Rabu, 21 Mei 2025.
Sosok Dewi Astutik seorang wanita disebut sebagai gembong narkoba antara provinsi dan antar negara berasal dari salah satu desa di bagian selatan kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Dari identitas yang beredar di sosial media Dewi Astutik seorang wanita kelahiran Ponorogo 8 April 1983 beralamat di Dukuh Sumberagung, Desa Balong, Kabupaten Ponorogo.
Seperti dilansir laman Radio Gema Surya FM Ponorogo gemasuryafm.com menjelaskan seorang warga Dukuh Sumber Agung, Sri Wahyuni mengaku mengenal foto dalam paspor disebut bernama Dewi Astutik yang tinggal di alamat tersebut.
Sri Wahyuni membenarkan jika dia adalah tetangganya, tetapi namanya buka Dewi Astutik, dia mengenal dengan sebutan PA.
Wanita itu kata Sri Wahyuni menikah dengan salah satu warga setempat dan sempat berpamitan dan akan berangkat ke Kamboja pada tahun lalu.
Sejauh ini PA diketahui sering bekerja di luar negeri seperti Taiwan dan Hongkong, bahkan pada tahun lalu berpamitan hendak ke Kamboja dan ia melihat beberapa kali pulang, namun tidak mengetahui kapan detailnya.
Namun Kepala Dukuh Sumber Agung, Gunawan mengatakan jika tidak ada warganya yang bernama Dewi Astutik sesuai data kependudukan.
Kalau alamatnya yang tertulis dalam identitas yang beredar itu memang ada dan benar, tetapi nama Dewi Astutik tidak pernah terdaftar sebagai warga di Sumberagung, Balong, bahkan Gunamawan juga tidak kenal dengan wanita itu.
Sementara dalam perbincangan di grup sosial media facebook jika yang dipakai itu bukan nama asli dia sendiri tetapi memakai nama adiknya.
Ada juga yang mengatakan di perbincangan grup Info Warga Slahung jika asli wanita ini adalah berasal dari Desa Broto, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo kemudian menika dengan orang Balong, Ponorogo.
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu akun facebook ini:
Jarmawan Putra Jay : “asline jare wong slhung broto, rabi oleh mbalong..(yang benar katanya dia orang dari Broto, Slahung kemudian menikan dengan orang Balong),” tulisnya.
Bahkan dalam perbincangan itu disebut jika nama aslinya Paryatin alias Peri sedang Dewi Astutik nama adiknya.
Kaji Qosim : “berarti paryatin/ peri🤣🤣🤣 Dewi kui adine😝😝😝,” tulisnya.
Maulida Mida : “ngeh niku lek mboten kelentu buk🤣🤣 (ya itu kalau tidak salah),” tulis Maulida Mida.
Kini selain menjadi DPO BNN yang bersangkutan juga menjadi perbicangan bagi masyarakat di Ponorogo khususnya di wilayah Kecamatan Balong dan Slahung berdekatan wilayahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya Wanita ini kini menjadi buruan utama Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, diduga sebagai otak jaringan internasional penyelundupan melalui jalur laut.
Pengungkapan kasus ini merupakan kasus terbesar yang terjadi baru-baru ini di wilayah provinsi Kepulauan Riau.
Sebelumnya wanita kelahiran Ponorogo 8 April 1983 ini mengadi Daftar Pencarian Orang (DPO) BNN setelah terlibat dalam penyelundupan heroin 2,76 kg pada September 2024.
Kemudian kasus ini terungkap saat Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta menangkap kurir berinisial ZM yang membawa heroin yang disebunyikan di dinding koper.
Dari hasil pemeriksaan ZM, kemudian BNN menelusuri jaringan itu hingga menemukan AH yang memerintahkan pengambilan heroin dari Dewi Astutik di Kamboja, yang kemudian di tangkap di Medan, Sumatera Utara.
Dalam penjelasan Kapala BNN Komjen Marthinus Hukom seperti dilansir batamnews.co.id menyebutkan bahwa Dewi Astutik sudah lama termonetor dalam perdagangan narkoba jaringan internasional.
Ia beroperasi aktif di kawasan Golden Triangle (Laos, Myanmar dan Thailan) yang dikenal sebagai pusat produksi opium dan heroin di kawasan Asia Tenggara.
Sementara menurut Marthinus Dewi adalah WNI yang bergabung dengan jaringan Afrika, bahkan pelaku yang saat ini tertangkap di Adis Ababa, Etthiopia adalah jaringannya.
Bahkan belakangan BNN dan Bea Cukai Kepri dan TNI AL dikejutkan adanya penyelundupan 2 ton sabu-sabu dari Thailand yang berhasil digagalkan oleh tim.
Dari dalam kapal Sea Dragon Terawa, tim gabungan menemukan 67 kardus besar berisi 2.000 bungkus sabu kristal dalam kemasan teh hijau Guanyinwang, total mencapai 2 ton.
Kapal Sea Dragon Tarawa ini diduga kuat merupakan bagian dari jaringan Dewi Astutik yang sebelumnya pada 12 Mei 2024 BNN juga menyita 1,9 ton sabu dan kokain dari kapal Aung Toe Toe 99 di perairan Selat Durian, yang menggarah ke sindikat yang sama. **
