KITAINDONESIASATU.COM – Di tengah hiruk pikuk Pilkada serentak di seluruh Indonesia, dilaporkan pada Kamis (29/8/2024) ini ada empat daerah yang saat ini melaporkan terjadinya kekeringan.
Dilaporkan empat yang saat ini sedang dilanda kekeringan adalah Banyuwangi, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kekeringan Kota Blitar dan Kekeringan yang terjadi di Waduk Setu Patok Cirebon.
Di Banyuwangi, hampir setiap hari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan distri busi air bersih ke desa-desa terdampat kekeringan.
Menurut data dari BPBD Kabupaten Banyuwangi sejak bulan Juli 2024 lalu hingga sekarang telah mendistribusikan sebanyak 31 tandon air dan 55.000 liter air ke beberapa wilayah terdampak kesulitan air.
Seperti kita ketahui beberapa wilayah di 5 kecamatan yang kris air bersih terdapat di Kecamatan Tegaldlimo, Bangorejo, Genteng, Glagah, dan Wongsorejo.
Akibat krisis air bersih yang terjadi kini hampir setiap hari melayani kebutuhan warga di desa-desa terdampak, diharapkan batuan air dan tandon dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Sementara BPBD DIY memutuskan memperpanjang status siaga darurat kekeringan hingga akhir September 2024.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad kepada wartawan mengatakan, berdasarkan koordinasi dengan BMKG setempat hari tanpa hujan di DIY masih akan berlangsung sampai dengan Oktober dasarian tiga mendatang.
“Pada masa itu hujan akan turun tetapi masih dalam intensitas rendah. Untuk itu memutuskan memperpanjang, karena kabupaten semua juga memperpanjang status siaga darurat kekeringannya,” kata Noviar, Kamis (29/8/2024).
Menurut informasi dari BPBD DIY diperoleh penjelasan hingga saat ini sudah tercatat sebanyak 800 tangki air bersih disalurkan ke Gunungkidul, 30 tangki ke Kabupaten Kulonprogo dan 25 tangke ke Kabupaten Bantul.
Untuk mengantisipasi kekurangan air disetiap kabupaten/kota juga disiapkan ribuan stok air bersih, untuk mengantisipasi jika terjadi kekurangan air persediaan sudah siap.
Misalnya di Kabupaten Gunungkidul sendiri ada 1.000 tangki dan dikecamatan-kecamatan ada 2.000 tangki dan Kulonprogo dan Bantul ada di Dinsos DIY sebanyak 100 tangki.
Diperoleh keterangan dari laman BPBD Kota Blitar kedatangan musim kemarau di wilah ini terjadi lebih awal, namun BPBD setempat sudah siaga dengan sarana dan prasarananya.
Di Kota Blitar sendiri tahun lalu memiliki 6 tandon air, namun dari evaluasi jumlah itu belum mencukupi, sehingga harus segara menambah.
“Tahun ini kami mendapat bantuan 15 unit dari Pemprov, satu tandon berkapasitas 1.2000 liter air,” kata Kepala BPBD Kota Blitar, Agus Suherli.
Sementara dari evakuasi tahun lalu terdapat 12 titik di tujuh kelurahan dari 3 kecematan di Kota Blitar yang mengalami kesulitan air bersih.
Saat ini ada sekitar 5 fasilitas umum dan 514 kepala keluarga atau sekitar 1.500 jiwa yang saat ini terdampak kesulitan air bersih.
Sementara di Kabupaten Cirebon dilaporkan terjadi kekeringan di Waduk Setu Patok, Kecamatan Mundu, waduk mulai mengering ekstrem, meskipun masih terdapat airnya.
Selain Waduk Setu Patok Waduk Sedong lebih parah karena airnya sudah tidak ada lagi.
Jumlah kebutuhan air di wilayah Cirebon juga tidak menentu, dari daya tampung sepuluh juta kubik kini tinggal dua ratus ribu meter kubik air, sehingga air waduk tidak bisa mengalir ke hilir.
Sembilan waduk di BBWS Cimanuk-Cisanggarung, terakhir Waduk Cipanas namun belum beroperasi, namun airnya masih bisa dimanfaatkan.
Sedangkan delapan waduk saat ini bisa beroperasi, saat ini dibagi dua kelompok, yakni Malahayu, Kuningan, Darma, dan Jatigede, masuk kelompok pertama.
Dan kelompok kedua daya tampungnya kecil yakni tampungannya kecil saat musim kemarau sering airnya habis seperti Sedong, Setu Patok, Rancah Bereum, dan Ulang. **
