KITAINDONESIASATU.COM – Kemarahan publik memuncak di Israel. Ribuan demonstran turun ke jalan tuntut Perdana Menteri, Benyamin Netanyahu, capai gencatan senjata.
Minggu malam, 1 September 2024, puluhan ribu warga Israel menggelar protes besar-besaran dan memicu pemogokan umum sebagai respons terhadap penanganan pemerintah terhadap perang di Gaza.
Protes itu menyusul kematian enam sandera yang ditahan oleh Hamas di terowongan bawah tanah.
Kematian enam sandera ini memicu ketegangan lebih lanjut. Sekitar 100.000 orang berdemonstrasi di Tel Aviv, sementara ribuan lainnya berkumpul di Yerusalem, menekan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan membawa pulang sandera yang masih tersisa.
Pemogokan umum yang dijadwalkan pada hari Senin akan mempengaruhi hampir semua sektor ekonomi Israel.
Kantor pemerintah, sekolah, dan banyak bisnis akan ditutup. Bandara Ben Gurion juga akan berhenti beroperasi mulai pukul 08:00 waktu setempat (06:00 BST) tanpa batas waktu.
Israel Defense Forces (IDF) mengungkapkan bahwa jasad enam sandera ditemukan di terowongan di Rafah, Gaza selatan.
Mereka ditangkap oleh Hamas selama serangan pada 7 Oktober. Kementerian Kesehatan Israel melaporkan bahwa para sandera dibunuh oleh tembakan dari jarak dekat 48 hingga 72 jam sebelum ditemukan.
Meski Netanyahu menyalahkan Hamas atas kematian sandera dan berjanji untuk terus berjuang demi kesepakatan, kemarahan publik semakin meningkat terhadap kegagalannya mencapai kesepakatan yang diusulkan oleh AS sejak akhir Mei.
Ia juga menghadapi kritik karena keputusan untuk mempertahankan wilayah strategis di Gaza, terutama koridor Philadelphia, yang dianggap sebagai penghambat negosiasi.
Menteri Pertahanan Yoav Gallant, satu-satunya yang menentang kebijakan Netanyahu, menyerukan perubahan posisi kabinet.
Keluarga sandera mendukung pemogokan dan mendesak agar lebih banyak warga Israel turun ke jalan untuk mendukung gencatan senjata.
Mereka juga meminta anggota pemerintahan Netanyahu yang tidak setuju untuk menentang kebijakan yang ada.- ***
Sumber: The Guardian


