News

Sawit Jadi Penopang Ekonomi, ULM Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Berkelanjutan

×

Sawit Jadi Penopang Ekonomi, ULM Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menggelar Seminar Diseminasi dan Bedah Buku berjudul “Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Global” (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menggelar seminar diseminasi dan bedah buku “Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Global”, Senin (22/9/2025). Kegiatan ini membahas peran strategis sawit sebagai penopang ekonomi sekaligus tantangan yang dihadapi dalam isu lingkungan.

Wakil Rektor ULM, Arief Rahmad Maulana Akbar, menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman paling efisien dalam menghasilkan minyak nabati. Ia menyebut, selain menjadi sumber penghidupan masyarakat, komoditas ini juga berkontribusi besar bagi devisa negara.

“Tidak ada tanaman lain yang mampu mengubah air menjadi minyak dengan efisiensi seperti sawit. Pemerintah perlu memastikan pengelolaannya lebih efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Wakil Dekan Fakultas Pertanian ULM, Prof Ika Sumantri, menambahkan bahwa keberadaan industri sawit telah terbukti menopang ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Forum ini diharapkan bisa memperluas pemahaman kita mengenai dampak sawit bagi masa depan,” katanya.

Dalam pidato kunci, Helmi Muhansyah dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menekankan peran besar sawit dalam menjaga surplus ekspor non-migas Indonesia. Ia juga memaparkan sejumlah capaian, antara lain program B40, peluncuran katalog UMKM sawit 2025, dan dukungan terhadap penguatan ekspor produk turunan.

Acara inti menghadirkan Dr. Ir. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), yang membedah buku Mitos vs Fakta Sawit edisi keempat. Menurutnya, banyak anggapan negatif terkait industri sawit tidak sesuai dengan fakta lapangan.

“Kelapa sawit bukan hanya menopang korporasi besar, tetapi juga menghidupi petani kecil, UMKM, nelayan, hingga pedagang. Dari segi efisiensi, sawit jauh lebih unggul dibandingkan kedelai, rapeseed, maupun bunga matahari dalam penggunaan lahan, air, dan penyerapan karbon,” tutur Tungkot.

Diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan mahasiswa. Isu yang mencuat antara lain strategi Indonesia dalam bersaing dengan Malaysia di pasar global serta pengelolaan limbah POME agar lebih ramah lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *