News

Presiden Prancis dan Pemimpin Eropa Kritik Elon Musk atas Intervensi dalam Demokrasi Eropa

×

Presiden Prancis dan Pemimpin Eropa Kritik Elon Musk atas Intervensi dalam Demokrasi Eropa

Sebarkan artikel ini
FotoJet 29
Emmanuel Macron dan Elon Musk

KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengkritik Elon Musk terkait intervensinya dalam proses demokrasi Eropa, termasuk dalam pemilu federal Jerman yang akan datang.

Macron bergabung dengan para pemimpin Eropa lainnya, seperti Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre dan juru bicara pemerintah Jerman, untuk menanggapi serangkaian postingan Musk yang mendukung partai politik sayap kanan dan menyerang politisi sayap kiri di Eropa.

Musk, yang merupakan pemilik platform media sosial X, memiliki hubungan dekat dengan Donald Trump dan sebelumnya mendukungnya dengan mengeluarkan lebih dari $250 juta untuk kampanye pemilu Trump.

Macron menyoroti ketidakpastian mengenai peran pemilik jejaring sosial terbesar dalam mendukung gerakan politik reaksioner dan turut campur dalam pemilu, seperti yang terjadi di Jerman.

“Sepuluh tahun yang lalu, siapa yang mengira bahwa pemilik salah satu jejaring sosial terbesar di dunia akan mendukung gerakan reaksioner internasional baru dan melakukan intervensi langsung dalam pemilu, termasuk di Jerman ,” kata Macron, seperti ditulis The Guardian pada Senin, 6 Januari 2025.

Meskipun Macron tidak menyebut nama Musk langsung, ia mengungkapkan kekhawatirannya tentang seorang individu dengan pengaruh besar di media sosial dan sumber daya ekonomi yang terlibat dalam urusan politik negara lain.

Di Norwegia, Perdana Menteri Støre juga menyuarakan keprihatinannya dan menyebut bahwa langkah Musk untuk terlibat dalam politik negara demokrasi bukanlah hal yang seharusnya dilakukan. Ia berharap politisi Norwegia tidak terpengaruh oleh campur tangan seperti itu.

Sementara itu, seorang juru bicara pemerintah Jerman menanggapi klaim Musk tentang pengaruhnya terhadap pemilih dengan mengatakan bahwa pernyataan Musk tidak akan memengaruhi opini publik di Jerman, yang memiliki lebih dari 80 juta penduduk.

Musk sebelumnya menulis artikel yang kontroversial di surat kabar Jerman, Welt am Sonntag, yang dituduh berusaha mempengaruhi hasil pemilu federal Jerman yang akan dilaksanakan pada 23 Februari.

Selain itu, Musk dijadwalkan untuk melakukan percakapan langsung dengan pemimpin partai sayap kanan anti-imigrasi Alternative für Deutschland (AfD), Alice Weidel, di platform X.

Musk, yang mendukung AfD, menyatakan bahwa partai tersebut adalah “harapan terakhir” bagi Jerman dan menyerang sejumlah politisi Jerman, termasuk Kanselir Olaf Scholz dan Presiden Frank-Walter Steinmeier, dengan sebutan negatif.

Wakil Kanselir Jerman Robert Habeck menganggap dukungan Musk terhadap AfD sebagai langkah yang logis, mengingat keengganan Eropa untuk memperkuat regulasi terhadap media sosial dan perusahaan teknologi besar.

Kanselir Scholz sendiri menegaskan tidak akan bekerja sama dengan Musk, menyatakan bahwa ia memilih untuk tidak terlibat dengan Musk.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga mengkritik Musk setelah mendapat serangan dari Musk terkait skandal pelecehan seksual anak yang terjadi selama masa jabatannya sebagai direktur penuntutan umum.

Starmer menegaskan bahwa ia tidak akan merespons kritik pribadi dari Musk, namun menilai bahwa ada batasan yang telah dilanggar dalam beberapa kritik tersebut.- ***

Sumber; The Guardian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *