“Setiap kali saya turun ke Gunung Batu, warga selalu menyampaikan aspirasi tentang pembangunan turap. Sudah lebih dari 10 tahun ini menjadi perhatian, namun belum juga ada realisasi,” ungkap Devie.
Ia mendesak agar pembangunan turap tersebut segera masuk dalam perencanaan musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) dan direalisasikan sebelum ada korban jiwa akibat kondisi alam yang rawan longsor di daerah tersebut. “DPRD harus mendorong realisasi ini agar warga merasa aman dan terlindungi,” tegasnya.
Tak hanya soal SLB dan turap, Devie juga menyampaikan keresahan warga mengenai sulitnya mendapatkan pekerjaan meskipun anak-anak mereka sudah menyelesaikan pendidikan. Selain itu, sistem zonasi dalam pendidikan juga menjadi topik yang banyak dikeluhkan warga.
“Warga merasa sistem zonasi sering tidak adil, terutama bagi anak-anak berprestasi yang kalah bersaing karena jarak rumah yang jauh dari sekolah favorit,” kata Devie.
Menurutnya, pemerintah perlu mengevaluasi sistem zonasi ini dan menambah sekolah di setiap kecamatan agar akses pendidikan menjadi lebih merata.
“Ini menjadi PR besar bagi Wali Kota Bogor ke depan. Anak-anak berprestasi harus diberi kesempatan yang layak, bukan justru tersingkir karena aturan zonasi yang belum sempurna,” tutup Devie.
Dengan komitmen kuat untuk membawa aspirasi warga ke meja legislatif, Devie berharap Pemkot Bogor dapat segera menindaklanjuti isu-isu krusial ini demi kesejahteraan masyarakat.
“Mereka ini anak-anak Kota Bogor, penerus cita-cita bangsa. Mereka harus mendapat kesempatan yang sama untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (Nicko)***




