KITAINDONESIASATU.COM – Kasus gizi buruk pada anak atau stunting masih menjadi masalah besar di Jakarta, di tengah proses transisi kota ini menjadi kota global. Berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemerintah Kota (Pemkot) untuk mendukung perubahan tersebut.
Menurut data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jakarta yang dihimpun hingga Agustus 2024, tercatat 5.688 kasus stunting, yang melibatkan 1,67 persen dari total balita di Jakarta. Data ini berasal dari sistem Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).
Ima Mahdiah, Wakil Ketua DPRD Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, memberikan tanggapan terkait hal ini. Ia menyatakan bahwa penurunan angka stunting dapat dicapai melalui program sanitasi yang lebih baik.
“Sanitasi yang buruk dapat menyebabkan penyakit pada balita, seperti diare dan cacingan, yang mengganggu proses pencernaan serta penyerapan gizi,” kata Ima di Jakarta, Sabtu (29/5/2024).
Pimpinan DPRD DKI Jakarta ini juga mendorong Pemerintah Kota untuk segera mengambil langkah untuk mengurangi angka stunting, seperti dengan melakukan pendataan terhadap warga yang belum memiliki septic tank.
Pasalnya, angka stunting bisa meningkat apabila masih ada warga yang membuang air besar sembarangan.
“Walikota harus mengejar target, setidaknya setiap rumah harus memiliki sanitasi yang baik. Tingginya angka stunting juga dipengaruhi oleh banyaknya rumah yang belum memiliki septic tank,” tambahnya.
Ima meyakini bahwa perbaikan sanitasi, termasuk pembuatan septic tank, dapat membantu menekan angka stunting, terutama sebelum bayi dilahirkan.
“Stunting bukan hanya masalah setelah kelahiran, tetapi kita juga perlu melakukan pencegahan saat bayi masih dalam kandungan,” jelas Ima.




