KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah terus mempercepat pembangunan jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor gas elpiji (LPG).
Program ini menjadi salah satu strategi nasional dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan beban impor yang selama ini masih mendominasi pemenuhan kebutuhan LPG di dalam negeri.
Dengan potensi gas bumi yang melimpah, pemerintah menilai pengembangan jaringan gas menjadi solusi jangka panjang untuk menciptakan pasokan energi yang lebih mandiri dan stabil.
Kebutuhan LPG nasional saat ini mencapai sekitar lima juta metrik ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sebagian kecil dari total kebutuhan tersebut.
Kondisi itu membuat Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi permintaan masyarakat.
Di sisi lain, cadangan gas bumi yang terdiri atas metana dan etana dinilai jauh lebih besar sehingga memiliki prospek yang lebih menjanjikan sebagai sumber energi rumah tangga.
Pembangunan Jaringan Gas Terus Diperluas di Berbagai Daerah
Pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas periode 2025–2026 mencapai 119.379 sambungan rumah yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Target tersebut mengalami peningkatan dibandingkan rencana sebelumnya dan saat ini sebagian besar proyek telah memasuki tahap penyelesaian konstruksi.
Selain itu, pembangunan tahap awal jaringan gas juga mulai dilaksanakan di Kabupaten Cirebon dengan target lebih dari 41 ribu sambungan rumah.
Saat ini proyek masih berada pada tahap survei jalur, penentuan lokasi fasilitas pendukung, serta pendataan calon pelanggan sebelum pekerjaan konstruksi dilakukan.
Hingga tahun 2025, pemerintah telah membangun lebih dari 949 ribu sambungan rumah jaringan gas melalui pendanaan APBN maupun non-APBN.





