KITAINDONESIASATU.COM – Identitas penembak aktivis sekaligus loyalis Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Charlie Kirk akhirnya terungkap. Pelaku diketahui bernama Tyler Robinson, seorang warga Utah berusia 22 tahun yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.
Gubernur Utah, Spencer Cox menjelaskan bahwa Robinson berhasil diidentifikasi setelah penyelidik menganalisis rekaman pengawasan.
“Kami menangkapnya,” kata Cox dalam konferensi pers pada Jumat, 12 September 2025 pagi.
BACA JUGA : Aktivis Konservatif Charlie Kirk Tewas Ditembak, AS Berkabung Nasional
Charlie Kirk sendiri dikenal sebagai salah satu pendiri Turning Point USA sekaligus sosok berpengaruh dalam pemerintahan Trump. Ia ditembak mati pada Rabu, 10 September 2025 ketika menghadiri acara debat terbuka di Utah Valley University.
Dalam forum bertajuk “Prove Me Wrong” itu, Kirk tampak tengah menjawab pertanyaan dari mahasiswa sebelum tiba-tiba sebuah peluru mengenai bagian leher kirinya.
Seorang aktivis sayap kanan sekaligus loyalis Presiden Amerika Serikat tewas ditembak saat tengah membahas isu penembakan massal di Universitas Utah Valley pada Rabu (10/9). Pria berusia 31 tahun itu dikenal sebagai sosok konservatif yang blak-blakan, dengan pernyataan-pernyataannya yang kerap memicu kontroversi serta memprovokasi pihak yang berbeda pandangan.
Kirk, pendiri organisasi pemuda konservatif Turning Point USA, memiliki peran penting dalam menggerakkan suara pemuda untuk Donald Trump pada Pilpres 2024. Ia juga aktif di media sosial, terutama lewat akun TikTok The Charlie Kirk Show yang diikuti 8,1 juta pengguna. Di sana, ia sering menayangkan debat yang menentang pandangan liberal, khususnya mengenai kepemilikan senjata, isu perubahan iklim, hingga LGBTQ+.
Beberapa pernyataannya sempat menuai sorotan tajam. Dalam satu kesempatan, ia berkomentar bahwa sebagian kematian akibat senjata api merupakan “harga yang layak dibayar” demi mempertahankan Amandemen Kedua Konstitusi AS yang menjamin hak kepemilikan senjata. “Memang ada harga yang harus dibayar berupa kematian akibat senjata setiap tahun, namun itu sepadan agar kita tetap memiliki Amandemen Kedua untuk melindungi hak-hak lain yang diberikan Tuhan. Itu adalah deal yang masuk akal,” ucapnya dalam sebuah acara di Awaken Church, Salt Lake City, pada 5 April 2023.
Detik-detik sebelum tertembak, Kirk tengah menggelar debat terbuka mengenai maraknya kasus penembakan massal di AS dalam satu dekade terakhir. Seorang pemuda bertanya kepadanya soal jumlah pelaku penembakan massal yang berasal dari kalangan transgender. “Terlalu banyak,” jawab Kirk. Pemuda tersebut kemudian menyebut angkanya lima, lalu balik bertanya apakah Kirk mengetahui jumlah total pelaku penembakan massal di AS selama sepuluh tahun terakhir. “Termasuk atau tidak termasuk kekerasan geng?” balas Kirk.
Padahal, menurut data Hamline University dalam The Violence Prevention Project, 98 persen pelaku penembakan massal di ruang publik adalah laki-laki. Hanya dua persen di antaranya perempuan, dan kurang dari satu persen berasal dari kalangan transgender. Sesaat setelah perdebatan itu, terdengar letupan keras mirip tembakan. Kirk sempat memegangi lehernya sebelum terjatuh dengan darah bercucuran, sementara peserta debat panik dan berhamburan keluar ruangan.(*)



