Perubahan Fungsi dan Pendirian Museum
Seiring perkembangan zaman dan modernisasi transportasi, peran Stasiun Ambarawa mulai memudar. Pada tahun 1970, jalur kereta api Ambarawa-Kedungjati ditutup, dan pada tahun 1976, Stasiun Ambarawa dinonaktifkan.
Untuk melestarikan sejarah perkeretaapian, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Supardjo Rustam, mencetuskan ide untuk mengubah Stasiun Ambarawa menjadi museum kereta api. Museum ini resmi dibuka pada tahun 1978 dan menjadi daya tarik wisata edukatif yang menampilkan koleksi lokomotif uap dan artefak perkeretaapian lainnya.
Museum Kereta Api Ambarawa memiliki koleksi yang beragam, termasuk 26 lokomotif uap, 4 lokomotif diesel, serta puluhan gerbong dan kereta dari berbagai daerah. Pengunjung dapat menikmati perjalanan wisata dengan kereta api uap atau diesel dengan rute Ambarawa-Tuntang atau Ambarawa-Jambu-Bedono yang melewati rel bergerigi, satu-satunya yang masih aktif di Indonesia.
Museum ini tidak hanya menjadi tempat wisata sejarah, tetapi juga sarana edukasi yang menarik bagi masyarakat dan wisatawan untuk mengenal lebih dalam tentang perkembangan transportasi kereta api di Indonesia.(*)


