KITAINDONESIASATU.COM – Gemerlap lampu menghiasi panggung raksasa yang berdiri megah di jantung Alun-Alun Ratu Zaleha, Martapura. Di hadapan ribuan pasang mata yang memadati kawasan itu sejak sore, Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, memukul tarbang. Bunyi yang keluar bukan hanya penanda dimulainya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXVI tingkat provinsi, tapi juga gema harapan akan lahirnya generasi Qur’ani yang berakhlak dan berilmu.
Di atas panggung sepanjang 66 meter dan lebar 20 meter yang dihiasi ornamen khas Martapura — mulai dari replika gerbang Sekumpul hingga miniatur mihrab Mushala Ar-Raudhah — prosesi pembukaan MTQ berlangsung khidmat dan semarak. Musik hadrah klasik mengiringi langkah para kafilah dari 13 kabupaten/kota yang mengenakan busana khas daerah, membawa semangat lokalitas dalam lantunan ayat suci.
Bukan kali pertama Kabupaten Banjar menjadi tuan rumah. Tapi kali ini, setelah 17 tahun berlalu sejak terakhir kali mereka dipercaya, nuansa yang dihadirkan lebih matang. “Ini bukan sekadar lomba. Ini adalah syiar, ini adalah peradaban,” kata Bupati Banjar H. Saidi Mansyur dalam sambutannya.
MTQ XXXVI bukan hanya soal kompetisi membaca dan memahami Al-Qur’an. Dengan mengusung tema “Bersama Al-Qur’an Kita Bangun Generasi yang Berakhlak Mulia dan Berilmu,” ajang ini seakan menjadi ruang artikulasi nilai-nilai spiritual dalam bingkai kebudayaan lokal Banjar. Selama sepekan penuh, Martapura bukan hanya menjadi arena lomba, tapi juga ruang refleksi: sejauh mana masyarakat menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan solusi.
Sebanyak 1.301 peserta akan bersaing dalam 29 cabang perlombaan. Tidak hanya tilawah, tetapi juga hifzh, tafsir, fahm, syarh, khattil Qur’an, bahkan lomba dakwah dan penulisan makalah ilmiah. Ragam cabang ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak stagnan pada kemampuan membaca, tapi juga mengkaji dan menyampaikan.
Gubernur H. Muhidin pun menekankan pentingnya kemampuan memahami kandungan Al-Qur’an. “Membaca dengan indah itu penting, tapi memahami lebih dari itu. Al-Qur’an harus menjadi pedoman hidup, bukan sekadar ritual,” ujarnya dalam nada teduh.


