News

Menag Nasaruddin Umar Pulang dari Italia, Indonesia Disebut Jadi Model Moderasi Beragama Dunia

×

Menag Nasaruddin Umar Pulang dari Italia, Indonesia Disebut Jadi Model Moderasi Beragama Dunia

Sebarkan artikel ini
Menag Nasaruddin Umar
Menteri Agama, Nasaruddin Umar (Tengah). Foto: Humas Kemenag

“Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,” katanya.

Dalam kunjungan tersebut, Menag juga menyempatkan diri melihat perpustakaan Vatikan. Ia mengaku menemukan banyak koleksi literatur Islam, termasuk kitab-kitab yang jarang dijumpai di Indonesia maupun negara-negara Timur Tengah.

Perhatian peserta forum di Assisi juga tertuju pada gagasan ekoteologi dan diplomasi keagamaan yang disampaikan Indonesia. Bahkan, penyelenggara disebut berencana mengangkat kedua gagasan tersebut sebagai tema besar dalam pertemuan berikutnya.

“Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,” jelas Nasaruddin.

Selain itu, Pancasila turut menjadi salah satu topik yang menarik perhatian peserta. Nasaruddin mengatakan, banyak peserta ingin mengetahui bagaimana ideologi negara Indonesia menjadi landasan kehidupan masyarakat yang berbeda agama dan latar belakang.

Ia bahkan menyebut waktu penyampaian materi yang semula dijadwalkan tujuh menit berkembang menjadi sekitar 30 menit karena peserta meminta penjelasan lebih lanjut mengenai Pancasila.

“Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,” ujarnya.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Nasaruddin juga diterima Menteri Luar Negeri Vatikan. Pertemuan itu membahas penguatan hubungan Indonesia dan Vatikan, termasuk kerja sama dalam menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut Menag, Vatikan melihat Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim besar yang memiliki pengalaman dalam menjaga moderasi beragama.

Salah satu kesamaan pandangan yang mengemuka adalah komitmen membela masyarakat yang mengalami penindasan tanpa membedakan agama maupun latar belakang.

“Bahwa siapa pun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,” tegasnya.

Nasaruddin berharap berbagai respons positif selama kunjungan tersebut tidak berhenti pada pertemuan diplomatik semata. Ia ingin peluang kolaborasi itu diwujudkan dalam kerja sama konkret di bidang pendidikan, dialog antaragama, dan diplomasi keagamaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *