KITAINDONESIASATU.COM – Daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) harus diprioritaskan dalam program makan bergizi gratis (MBG).
Hal itu perlu menjadi perhatian karena ternyata yang didahulukan adalah daerah perkotaan atau daerah yang dinilai siap.
Pemengaruh kesehatan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Tan Shot Yen mengatakan anak-anak di daerah 3T adalah yang paling membutuhkan program itu karena memiliki status gizi yang rawan.
Jika program tersebut sampai salah sasaran, risikonya adalah pengeluaran yang lebih besar.
“Jadi jangan sampai anak-anak yang ke sekolahnya naik ojek, naik mobil, bapaknya masih merokok, rumahnya dua lantai, itu malah yang dapat makanan. Sementara anak-anak di sebelah sana, di Kepulauan Anambas, di Wamena, yang barangkali sekolahnya udah hampir ambruk, itu mereka nggak dapat sampai hari ini,” tuturnya.
Awalnya, menurut dia, Pemerintah menyebut bahwa daerah 3T yang akan didahulukan dalam program ini. Akan tetapi, program tersebut dimulai dari daerah yang siap, dengan alasan jika dimulai dari daerah 3T, program tidak akan kunjung jalan.
“Jadi merupakan suatu catatan besar juga bagi kita bahwa kita akan meminta janji Pemerintah, siap gak siap, daerah 3T itu yang harus didahulukan,” katanya.
Dia mendukung makan bergizi gratis selama manfaatnya tepat sasaran.


