News

Lubang Jalan Mengintai, Mobilitas Warga Bogor Tersendat, Ini Kata Dinas PUPR

×

Lubang Jalan Mengintai, Mobilitas Warga Bogor Tersendat, Ini Kata Dinas PUPR

Sebarkan artikel ini
IMG 20260128 152247
Salah satu kondisi jalan mengalami banjir di kota Bogor (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM Kerusakan jalan di sejumlah wilayah Kota Bogor terus memantik keluhan publik. Lubang-lubang dalam yang menganga di badan jalan kini bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan pengguna jalan. Ironisnya, kondisi tersebut masih ditemukan di ruas-ruas vital yang setiap hari dilalui ribuan warga.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor, Juniarti Estiningsih, menyebut cuaca hujan ekstrem sebagai faktor utama penyebab kerusakan. Pihaknya mengklaim telah melakukan upaya perbaikan secara berkelanjutan.

“Kondisi jalan yang rusak akibat cuaca hujan ekstrem, kami upayakan secepatnya untuk perbaikan-perbaikannya. Sudah banyak titik yang sudah dikerjakan, setiap hari kita sisir baik jalan maupun drainase di wilayah Kota Bogor,” tutur Juniarti, saat di konfirmasi melalui pesan singkat, Rabu 28 Januari 2026.

Baca Juga  Bocoran Daftar Menteri Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran

Namun, klaim tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi di lapangan. Berdasarkan berita sebelumnya dan pantauan dilapangan, kerusakan parah masih mendominasi wilayah Kecamatan Bogor Selatan. Jalur Pamoyanan menuju BNR, akses alternatif pascapenutupan Jalan Batu Tulis, hingga kawasan Cipinang Gading, Rangga Mekar, dan Pabuaran, masih dipenuhi lubang-lubang dalam yang sulit dihindari, terutama saat hujan.

Curah hujan tinggi memang mempercepat degradasi badan jalan. Akan tetapi, kondisi ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kualitas perencanaan, ketahanan konstruksi, serta efektivitas pemeliharaan rutin yang selama ini dilakukan oleh PUPR.

Keresahan warga pun tak terelakkan. Rahmansyah Herlambang (38), warga yang setiap hari melintasi jalur Pamoyanan, mengaku selalu dihantui rasa waswas, khususnya saat hujan turun.

“Kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Kalau hujan turun, lubang-lubang itu tertutup air, jadi tidak kelihatan sama sekali. Ini jelas membahayakan nyawa kami sebagai pengguna jalan,” ujar Rahmansyah, Rabu 28 Januari 2026.

Baca Juga  Manajemen PIK 2: Pagar Tanggul Laut Bukan dari Kami

Ia menilai penanganan jalan rusak terkesan lamban, padahal ruas tersebut merupakan jalur strategis bagi aktivitas warga. Menurutnya, alasan cuaca seharusnya tidak menjadi pembenaran atas keterlambatan perbaikan yang berlarut-larut.

Desakan juga datang dari DPRD Kota Bogor. Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor, Ahmad Aswandi, menegaskan agar Dinas PUPR tidak hanya bergerak cepat di atas kertas, tetapi benar-benar menghadirkan perbaikan berkualitas di lapangan.

“Kami menginstruksikan Dinas PUPR untuk bergerak cepat melakukan perbaikan. Jangan hanya sekadar tambal sulam, tapi perhatikan kualitas aspalnya. Harus pakai aspal dengan kualitas bagus agar tahan lama, apalagi Bogor sering diguyur hujan,” tegas Ahmad yang akrab disapa Kiwong.

Menurut Kiwong, keselamatan masyarakat tidak boleh menjadi korban dari pekerjaan infrastruktur yang setengah hati. DPRD, kata dia, akan mengawal agar penggunaan anggaran perbaikan jalan benar-benar memberi dampak jangka panjang, bukan sekadar meredam keluhan sesaat.

Baca Juga  Ilmuwan Ingatkan Risiko Pertanian Asia di Era Populasi Menyusut

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menjelaskan bahwa keterlambatan penanganan juga dipengaruhi oleh kendala pasokan material. Penutupan tambang material di Parung Panjang dan Rumpin oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat berdampak pada ketersediaan bahan baku hotmix.

“Kata Dinas PUPR, ini dampak dari penutupan tambang material di Parung Panjang dan Rumpin oleh Pemprov Jabar,” singkat Dedie.

Meski demikian, publik berharap PUPR Kota Bogor tidak terus berlindung di balik faktor cuaca maupun kendala teknis. Jalan rusak yang dibiarkan berlarut-larut bukan hanya mencerminkan lemahnya respons, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan warga yang setiap hari bergantung pada infrastruktur tersebut. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *