Setelah itu, peserta mengikuti coaching clinic kewirausahaan, pelatihan keterampilan, serta pembekalan pengelolaan keuangan.
“Kami menggunakan sistem monitoring cerdas, saat ini bekerja sama dengan bidang PKH, ada 400 nama yang akan dimasukkan dalam program graduasi. PKH sendiri di Kota Bogor memiliki sekitar 30 ribu penerima, dan akan terus diupayakan untuk naik kelas.
Kebijakan pusat menargetkan setiap pendamping PKH menggraduasi 10 orang per tahun. Dengan 75 pendamping, targetnya 750 orang per tahun lulus dari status penerima bantuan menjadi mandiri. Karena itu kami luncurkan Simoncer dengan slogan ‘Berlari, Berkarya, Melangkah untuk Mandiri’,” jelasnya.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menegaskan, semua proyek perubahan harus berbasis fakta dan data. “Kalau terkait penerima bantuan, tentu tidak selamanya seseorang menerima bantuan secara abadi. Penerima harus ada graduasi yang tujuannya memperbaiki kehidupan masyarakat. Jadi bukan semata-mata hanya menerima bantuan, tetapi mereka harus berubah nasibnya menjadi lebih baik,” ujarnya.
Dedie menambahkan, inovasi seperti Simoncer selaras dengan proyek perubahan lainnya di lingkungan Dinsos, termasuk program respon cepat bantuan sosial kebencanaan. “Tentunya ini menjadi hal baik dan bisa diimplementasikan dalam kegiatan kedinasan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinsos Kota Bogor Atep Budiman menyampaikan, ke depan aplikasi Simoncer akan disinkronkan dengan program pembinaan Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
“Dengan berbagai program, harapannya intervensi ini semakin meningkatkan kinerja Dinsos Kota Bogor. Inovasi ini hasil kolaborasi, termasuk dari Pak Dani Rahardian dan Pak Irfan Zacky Faizal yang sebelumnya sempat bertugas di Dinsos,” pungkasnya. (Nicko)


