KITAINDONESIASATU.COM – KRAy Intan Dewi Rumbinang, S.E., S.H., CPLA selaku Ketua Umum Yayasan Generasi Hebat Sejahtera (YGHS), Ketua Umum ARENAS Prabowo 08, serta bagian dari komunitas 98 Resolution Network, menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah tegas Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Nanik S. Deyang, dalam melakukan evaluasi dan pembenahan besar terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut KRAy Intan, pembenahan ini penting dilakukan agar Program MBG tidak terjebak menjadi sekadar proyek angka dan pencitraan, tetapi benar-benar menjadi program strategis negara yang mampu menyelamatkan kualitas generasi bangsa.
“Kami mendukung penuh keberanian Kepala BGN untuk melakukan koreksi dan evaluasi menyeluruh. Program sebesar MBG tidak boleh hanya sibuk mengejar kuantitas penerima, tetapi melupakan kualitas makanan, pengawasan distribusi, dan efektivitas anggaran. Jangan sampai program rakyat justru kehilangan ruh keberpihakannya kepada rakyat,” tegasnya.
KRAy Intan menilai, empat poin pembenahan yang disampaikan Kepala BGN merupakan langkah realistis dan berani di tengah besarnya tantangan operasional program nasional tersebut.
Table of Contents
Fokus pada Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas
Menurutnya, keputusan untuk tidak lagi memaksakan target puluhan juta penerima apabila kualitas gizi tidak terjamin merupakan langkah yang tepat dan bertanggung jawab.
“Lebih baik program berjalan bertahap tetapi berkualitas, daripada besar di angka namun lemah di mutu. Anak-anak Indonesia membutuhkan asupan gizi yang benar, bukan sekadar makanan penggugur target administrasi,” ujarnya.
Prioritas Wilayah 3T dan Kelompok Rentan
KRAy Intan juga mengapresiasi keberpihakan BGN terhadap wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta fokus kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Ia menegaskan bahwa negara memang seharusnya hadir lebih dulu di wilayah yang paling membutuhkan, bukan hanya di daerah yang mudah dijangkau secara politik maupun administratif.
“Kalau bicara keadilan sosial, maka daerah 3T harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai masyarakat di pelosok hanya menjadi penonton program nasional,” katanya.
Moratorium Dapur Baru Dinilai Tepat
Terkait penghentian sementara pembangunan atau pendaftaran dapur SPPG baru, KRAy Intan menilai langkah tersebut sangat rasional untuk memperbaiki tata kelola dan memastikan dapur yang sudah berjalan benar-benar efektif dan terawasi.
“Lebih baik menata yang sudah ada daripada memaksakan ekspansi tetapi akhirnya menimbulkan masalah distribusi, kualitas makanan, bahkan potensi pemborosan anggaran. Program sebesar ini membutuhkan sistem kontrol yang kuat, bukan sekadar seremonial pembukaan dapur,” ujarnya.
Efisiensi Anggaran dan Keterlibatan Publik
KRAy Intan mendukung upaya BGN membuka peluang pembiayaan alternatif melalui CSR BUMN, hibah, hingga pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia agar program tidak sepenuhnya membebani APBN.
Namun ia mengingatkan agar keterlibatan pihak swasta, yayasan, koperasi, maupun relawan tetap berada dalam koridor transparansi dan akuntabilitas.
“Jangan sampai semangat gotong royong justru dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mencari keuntungan pribadi. Pengawasan harus diperketat, audit harus jelas, dan program ini harus steril dari praktik-praktik yang mencederai kepercayaan publik,” tegasnya.
KRAy Intan juga berharap kepemimpinan baru BGN mampu membangun sistem yang lebih profesional, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas, khususnya kelompok rentan dan daerah yang selama ini minim perhatian.
Sebagai organisasi yang aktif dalam bidang sosial, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan program kerakyatan, Yayasan Generasi Hebat Sejahtera bersama ARENAS Prabowo 08 dan komunitas 98 Resolution Network menyatakan siap mendukung pemerintah dalam memastikan Program MBG benar-benar menjadi program strategis untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing.
“Program MBG harus menjadi gerakan nasional yang bersih, tepat sasaran, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Karena masa depan bangsa tidak bisa dibangun dengan program yang hanya bagus di atas kertas,” tutup KRAy Intan Dewi Rumbinang. (Rls)

