KITAINDONESIASATU.COM – Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar mengalami lonjakan signifikan hingga Juli 2026.
PT Pertamina Patra Niaga menyebut peningkatan tersebut dipicu oleh peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi setelah adanya penyesuaian harga Pertamax Series dan Dex Series pada April serta Juni 2026.
Director of Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengatakan konsumsi Pertalite pada Juli meningkat sekitar 9,4 persen.
Secara komposisi, pangsa Pertalite terhadap total konsumsi bensin nasional juga naik dari sekitar 75 persen pada periode JanuariāMei menjadi sekitar 80 persen.
Sebaliknya, penjualan BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax Series, mengalami penurunan sekitar 18 persen dibandingkan periode sebelumnya. Menurut Eko, perubahan harga BBM nonsubsidi membuat sebagian masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi.
Tidak hanya pada jenis bensin, fenomena serupa juga terjadi pada BBM diesel. Konsumsi Biosolar meningkat sekitar 13,9 persen sepanjang Juli 2026, sementara penjualan Dexlite dan Pertamina Dex turun sekitar 6,4 persen.
Pertamina menilai peningkatan penggunaan Biosolar tidak hanya berasal dari kendaraan pribadi, tetapi juga dari sektor industri yang mulai beralih mengisi BBM subsidi di SPBU.
Realisasi Penyaluran BBM Subsidi Pertalite dan Biosolar
Sementara itu, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat realisasi penyaluran Solar subsidi hingga 30 Juni 2026 telah mencapai 9,48 juta kiloliter atau sekitar 50,85 persen dari kuota tahunan sebesar 18,64 juta kiloliter.
Untuk Pertalite, realisasi penyaluran mencapai 13,96 juta kiloliter atau sekitar 47,68 persen dari kuota APBN 2026 sebesar 29,27 juta kiloliter.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyebut peningkatan penyaluran BBM subsidi terjadi setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mendorong masyarakat beralih ke Pertalite dan Biosolar.
Pengawasan Distribusi Diperketat
Mengantisipasi potensi penyalahgunaan, BPH Migas terus memperketat pengawasan distribusi BBM subsidi. Hingga saat ini, lebih dari 307 ribu QR Code yang terindikasi ilegal telah diblokir agar penyaluran BBM bersubsidi tetap tepat sasaran.





