KITAINDONESIASATU.COM – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei melontarkan peringatan keras kepada para demonstran di tengah gelombang protes yang terus mengguncang negeri itu. Dalam pidato publik pada Jumat (9/1), Khamenei menegaskan tidak akan mentoleransi segala bentuk kolaborasi dengan pihak asing.
Dengan nada tegas, Khamenei menuding adanya upaya campur tangan luar yang memanfaatkan keresahan rakyat. Ia secara terbuka mengecam Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang dituding bermain di atas penderitaan publik Iran.
“Saya tidak akan menoleransi kolaborasi dengan pihak asing,” ujar Khamenei.
“Jika Anda adalah agen yang bekerjasama dengan kekuatan luar, Anda akan ditolak oleh rakyat Iran dan oleh rezim Iran,” katanya memperingatkan.
Khamenei bahkan menuding Trump memiliki tangan yang berlumuran darah rakyat Iran, meski di saat bersamaan Trump mengklaim berdiri di pihak masyarakat Iran. Menurut Khamenei, sikap Trump sama sekali tidak mencerminkan kepedulian terhadap warga sipil.
Ia menyebut Trump bertindak tidak bertanggungjawab dan justru memprovokasi kekacauan.
“Para demonstran bisa saja mempercayainya. Mereka membakar tempat sampah hanya untuk menyenangkannya,” sindir Khamenei.
Dalam pidatonya, Khamenei juga menyerukan persatuan nasional dan kewaspadaan penuh. Ia menegaskan bangsa Iran akan mampu menghadapi dan mengalahkan setiap musuh yang mencoba menggoyahkan negara.
Pernyataan keras itu disampaikan di tengah situasi Iran yang kian memanas. Aksi demonstrasi terus berlangsung sejak akhir Desember, dipicu oleh tekanan ekonomi dan masalah sosial yang semakin berat.
Gelombang protes bermula pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, setelah nilai tukar rial Iran terjun bebas dan kondisi ekonomi memburuk. Aksi tersebut kemudian meluas ke berbagai kota di seluruh negeri.
Meski pemerintah Iran belum merilis data resmi korban, Human Rights Activists News Agency melaporkan pada hari ke-12 kerusuhan sedikitnya 42 orang tewas, termasuk delapan personel keamanan. Selain itu, puluhan orang dilaporkan terluka dan sebanyak 2.277 orang ditangkap aparat.
Situasi makin tegang setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya melontarkan ancaman terbuka. Pada Kamis (8/1), Trump menyatakan Amerika Serikat siap menyerang Iran “dengan sangat keras” jika pemerintah Teheran mulai membunuh para demonstran.
“Jika mereka mulai membunuh pengunjuk rasa, dan itu sering mereka lakukan saat kerusuhan.
kami akan menghajar mereka dengan sangat keras,” kata Trump dalam wawancara dengan The Hugh Hewitt Show. (Sumber: Anadolu)
