KITAINDONESIASATU.COM – Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPD PDI Perjuangan) Provinsi Kalimantan Selatan menggandeng Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalsel untuk duduk satu meja membedah persoalan mendasar sektor pendidikan. Lewat forum konsinyering ini, berbagai data sensitif dan tantangan struktural dibuka ke publik — dari ruang kelas rusak hingga kualitas guru yang masih tertatih.
Ketua DPD PDI Perjuangan Kalsel, H.M. Syaripuddin Syarifudin, menegaskan forum ini bukan sekadar seremonial, melainkan ruang strategis untuk merumuskan langkah kebijakan yang benar-benar menukik ke akar masalah pendidikan. “Jangan hanya terpaku angka di atas kertas. Kita harus bicara realitas: akses timpang, mutu guru rendah, sarana terbatas, hingga kesenjangan antara sekolah negeri, swasta, dan keagamaan,” tegas Syarifuddin.
Data yang dipaparkan Kepala BPMP Kalsel, Yuli Haryanto, mempertegas potret buram pendidikan di Banua. Total satuan pendidikan di Kalsel kini mencapai 8.309 sekolah — 3.895 sekolah negeri dan 4.414 sekolah swasta. Komposisi ini menuntut kebijakan yang adil dan berpihak pada pemerataan mutu, bukan hanya memprioritaskan satu sisi.
Lebih memprihatinkan, masih ada 42,44% guru yang belum tersertifikasi dari total 75.871 pendidik dan tenaga kependidikan. Sementara di sisi mutu kelembagaan, 1.846 sekolah berakreditasi C dan 172 sekolah belum terakreditasi sama sekali. Kondisi ini menegaskan bahwa jargon ‘mutu pendidikan’ belum sepenuhnya menyentuh ruang kelas di pelosok.
Persoalan infrastruktur juga terkuak gamblang: 6.425 ruang kelas mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan (3.321 ruang), rusak sedang (2.228 ruang), hingga rusak berat (876 ruang). “Kalau ruang belajar saja rapuh, bagaimana kita bisa menuntut kualitas output?” kritik Syaripuddin.
Dalam konsinyering tersebut, PDI Perjuangan menegaskan perlunya pendekatan kebijakan yang tidak normatif, melainkan benar-benar berpihak pada pemenuhan hak pendidikan, khususnya bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu dan daerah tertinggal. (Anang Fadhilah)

