KITAINDONESIASATU.COM – Pendukung Presiden Tunisia, Kais Saied, mulai merayakan kemenangannya di Tunis pada Minggu malam, 6 Oktober 2024, setelah hasil exit poll yang disiarkan di televisi pemerintah menunjukkan kemenangan telak atas dua pesaingnya.
Saied menghadapi dua pesaing dalam pemilu kali ini: mantan sekutunya yang berubah menjadi kritikus, Zouhair Maghzaoui dari Partai Chaab, dan Ayachi Zammel, yang dipenjara bulan lalu.
Partisipasi pemilih dilaporkan hanya mencapai 27,7%, separuh dari jumlah pemilih pada putaran kedua pemilihan presiden 2019. Meski hasil resmi baru akan diumumkan pada Senin malam, exit poll dari lembaga survei Sigma menunjukkan bahwa Saied unggul dengan 89,2% suara.
Dalam pernyataan pertamanya, Saied menegaskan bahwa ini adalah kelanjutan dari revolusi Tunisia, dan berjanji akan membersihkan negara dari korupsi serta pengkhianatan. Namun, tim kampanye Zammel dan Maghzaoui menolak hasil exit poll tersebut, dengan klaim bahwa hasil akhir akan berbeda.
Di ibu kota Tunis, para pendukung Saied berkumpul di Jalan Habib Bourguiba, mengibarkan bendera Tunisia dan foto Saied, seraya meneriakkan slogan-slogan mendukung pembangunan dan kemajuan negara.
Seorang warga, Mohsen Ibrahim, menyatakan kegembiraannya atas kemenangan ini karena Saied dianggap bekerja demi rakyat dan negara, bukan untuk kepentingan pribadi.
Tunisia sebelumnya dipandang sebagai salah satu kisah sukses dari gerakan Musim Semi Arab pada 2011 karena berhasil memperkenalkan demokrasi.
Namun, kelompok hak asasi manusia kini mengkritik Saied, yang mereka anggap telah merusak pencapaian demokrasi dengan menghapus kontrol institusional terhadap kekuasaannya. Sejak menjabat pada 2019, Saied menolak kritik tersebut dan menyatakan bahwa ia sedang memerangi elit korup.
Selama setahun terakhir, sejumlah tokoh senior dari partai-partai besar yang menentang Saied telah dipenjara, dan banyak calon lawan politik dilarang mencalonkan diri dalam pemilu. Ketegangan politik semakin meningkat setelah tiga kandidat terkemuka didiskualifikasi oleh komisi pemilihan, yang memicu protes dari kelompok oposisi dan masyarakat sipil.- ***
Sumber: Reuters


