KITAINDONESIASATU.COM – Parlemen Iran mengumumkan rencana untuk menutup Selat Hormuz bagi seluruh aktivitas pelayaran. Langkah ini diambil sebagai respons keras terhadap serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran.
“Parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup,” kata anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Mayor Jenderal Esmaeli Kowsari, dikutip dari Anadolu pada Minggu, 22 Juni 2025.
Ia menambahkan, “Keputusan akhir mengenai hal tersebut akan ditetapkan oleh Dewan Keamanan Tertinggi Nasional.”
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur pelayaran krusial yang menopang ekonomi global, terutama dalam sektor energi. Jalur ini menjadi titik vital distribusi minyak mentah dari lima negara besar penghasil minyak dunia: Arab Saudi, Kuwait, Irak, Iran, dan Uni Emirat Arab, yang total produksinya mencapai hampir 28 juta barel per hari.
Tak hanya itu, Selat Hormuz juga merupakan jalur utama pengangkutan gas alam cair atau liquid natural gas (LNG), dengan lebih dari 3.000 kapal melintas setiap bulan untuk pendistribusian ke berbagai negara.
Namun, stabilitas kawasan ini terguncang setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah melakukan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran. Aksi ini semakin memperkeruh ketegangan yang sebelumnya telah memanas sejak serangan Israel pada 13 Juni 2025 lalu.


