KITAINDONESIASATU.COM – Persaingan industri smartphone global memasuki babak baru. Ketika Apple mencatatkan kinerja penjualan iPhone yang menguat, sejumlah produsen ponsel asal China justru menghadapi tekanan serius.
Kondisi ini memperlihatkan perubahan peta persaingan teknologi sekaligus menguji strategi perusahaan yang selama ini mengandalkan penjualan perangkat kelas bawah hingga menengah.
Apple menutup kuartal IV tahun fiskal 2026 dengan pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 12 persen. Penjualan iPhone menjadi salah satu pendorong utama pencapaian tersebut.
Kinerja ini menunjukkan bahwa produk Apple masih memiliki daya tarik kuat di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Sebaliknya, Xiaomi, Oppo, dan Vivo menghadapi penurunan pengiriman perangkat pada kuartal III 2026. Tekanan tersebut tidak bisa dilepaskan dari krisis komponen memori global yang meningkatkan biaya produksi.
Situasi ini membuat produsen harus mengevaluasi strategi produk dan operasional agar tetap kompetitif.
Krisis Komponen Mengubah Peta Persaingan Smartphone iphone
Laporan Counterpoint Research yang dikutip CNBC Indonesia memperlihatkan tekanan berbeda pada sejumlah merek besar asal China. Xiaomi mengalami penurunan pengiriman paling tajam, sementara Oppo dan Vivo juga kehilangan momentum.
Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi industri smartphone antara lain:
- Kelangkaan chip memori: Kebutuhan komponen untuk infrastruktur kecerdasan buatan ikut menekan ketersediaan pasokan.
- Biaya produksi meningkat: Kenaikan biaya komponen membuat produsen kesulitan mempertahankan strategi perangkat terjangkau.
- Daya beli semakin selektif: Konsumen perlu mempertimbangkan kembali pilihan perangkat ketika spesifikasi dan biaya pembelian berubah.
- Persaingan semakin ketat: Apple memanfaatkan momentum pertumbuhan iPhone ketika sejumlah pesaing menghadapi tekanan operasional.






