KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan terkait masa depan pelayaran di Selat Hormuz di tengah memanasnya ketegangan dengan Iran. Trump menegaskan bahwa lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut akan tetap bebas selama masa gencatan senjata 60 hari, bahkan setelah periode itu berakhir.
Melalui unggahan di Truth Social pada Sabtu (20/6), Trump menyatakan tidak akan ada pungutan atau biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz selama masa gencatan senjata berlangsung. Ia juga menegaskan kebijakan itu tetap berlaku setelah 60 hari berakhir.
Namun, Trump memberi sinyal bahwa kebijakan tersebut bisa berubah jika upaya perdamaian dengan Iran menemui jalan buntu. Menurutnya, Amerika Serikat berpeluang memberlakukan biaya pelayaran sebagai bentuk kompensasi atas layanan keamanan dan biaya operasional yang telah dikeluarkan.
Di saat yang sama, Iran justru mengambil langkah drastis. Militer Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas dugaan pelanggaran nota kesepahaman perdamaian oleh Amerika Serikat serta berlanjutnya serangan Israel di Lebanon.
Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya menilai Washington gagal menjalankan poin utama dalam kesepakatan damai, yakni memastikan gencatan senjata di seluruh front konflik, termasuk wilayah Lebanon. Iran juga menuding Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata di Lebanon selatan.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional Iran, IRIB, pihak militer menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz resmi diberlakukan sebagai bentuk respons atas situasi tersebut.
Langkah Iran ini berpotensi memicu gejolak baru di pasar energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia. Ketegangan antara Washington dan Teheran pun kembali menjadi sorotan internasional karena dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global dan keamanan kawasan Timur Tengah. (Sumber: Sputnik)





