Internasional

Situasi Makin Genting! 1.924 Orang Hilang Usai Banjir Bandang Dahsyat di Nepal-Tibet

×

Situasi Makin Genting! 1.924 Orang Hilang Usai Banjir Bandang Dahsyat di Nepal-Tibet

Sebarkan artikel ini
Banjir Bandang Nepal Mengerikan,
Banjir Bandang dan Longsor (Istimewa)

KITAINDONESIASATU.COM –  Bencana banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, memicu kehancuran besar di wilayah pegunungan dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Situasi semakin mengkhawatirkan setelah Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal (NDRRMA) mencatat 1.924 orang masih dinyatakan hilang, termasuk 517 warga negara asing.

Hingga hari ketiga setelah bencana, jumlah korban tewas di wilayah Nepal telah menembus 570 orang. Sementara di Tibet, sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia dan sekitar 550 lainnya masih hilang.

Banjir bandang tersebut meluluhlantakkan berbagai infrastruktur penting di kawasan perbatasan. Jalan utama terputus, sejumlah jembatan roboh, sementara jaringan komunikasi ikut mengalami kerusakan.

Kondisi tersebut membuat proses pencarian korban semakin sulit. Tim penyelamat harus bekerja di tengah medan pegunungan yang rusak serta cuaca buruk yang masih mengancam.

Pemerintah Nepal mengerahkan sekitar 15.000 personel keamanan untuk menjalankan operasi pencarian dan penyelamatan atau SAR.

Sejauh ini, sekitar 4.000 warga lokal dan 100 wisatawan asing berhasil dievakuasi dari wilayah terdampak. Namun, operasi penyelamatan belum dapat berjalan maksimal karena akses darat yang hancur dan hujan deras yang terus mengguyur.

Ancaman Bencana Susulan Mengintai

Situasi di sisi Tibet juga tak kalah genting. Militer Tiongkok bahkan sempat menghentikan sementara operasi SAR karena muncul kekhawatiran terhadap danau alami yang terbentuk akibat banjir.

Jika tanggul alami tersebut jebol, gelombang banjir susulan berpotensi menerjang kawasan di sekitarnya.

Ancaman lain juga datang dari potensi tanah longsor tambahan. Curah hujan tinggi diperkirakan masih berlangsung hingga akhir pekan sehingga risiko bencana susulan tetap membayangi wilayah terdampak. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *