KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Pemerintah Iran menuduh Washington menggunakan isu program nuklir sebagai alasan untuk melancarkan serangan dan menghancurkan infrastruktur strategis negara tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa serangan serta ancaman berulang yang ditujukan kepada fasilitas nuklir Iran mencerminkan permusuhan Amerika Serikat terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai Teheran.
Melalui pernyataannya di platform media sosial X, Baghaei menyebut tindakan AS bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hukum internasional, serta berbagai resolusi yang dikeluarkan Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Konferensi Umum IAEA, hingga Dewan Keamanan PBB.
Menurutnya, seluruh aktivitas nuklir Iran telah dilaporkan secara transparan kepada IAEA sesuai kewajiban pengawasan dan sistem jaminan internasional yang berlaku.
Iran juga membantah keras tuduhan Amerika Serikat mengenai keberadaan kompleks nuklir rahasia di kawasan Kolang Kouh atau yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain. Baghaei menilai tuduhan tersebut hanyalah dalih yang sengaja dibangun untuk membenarkan aksi agresi, penghancuran, dan sabotase terhadap Iran.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya akan segera melancarkan serangan ke kawasan Pickaxe Mountain yang berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz, Iran tengah.
Baghaei menegaskan rakyat Iran tetap bersatu dan siap menghadapi segala bentuk tindakan yang dianggap mengancam kedaulatan serta keamanan nasional negaranya.
“Rakyat Iran berdiri teguh dan bersatu, siap menghadapi dengan segenap kekuatan setiap tindakan permusuhan AS atau pelanggaran terhadap kedaulatan dan keamanan nasional,” tegasnya.
Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan di sejumlah wilayah Iran sejak pekan lalu. Iran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas serta pangkalan militer AS di beberapa negara kawasan Timur Tengah.
Rangkaian aksi saling serang itu terus berlangsung meski kedua negara sebelumnya telah menandatangani kerangka kesepakatan yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu. Kesepakatan tersebut bertujuan mengakhiri konflik yang berlangsung sejak Februari sekaligus membuka jalan menuju perjanjian damai yang lebih permanen. (Sumber: Anadolu)





