KITAINDONESIASATU.COM – Iran akhirnya buka suara setelah muncul klaim dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai dimulainya pembicaraan antara Washington dan Teheran. Pemerintah Iran dengan tegas membantah adanya negosiasi dengan AS dan justru mengungkap fokus utama mereka saat ini adalah menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Teheran saat ini tengah bekerjasama dengan Oman untuk membuka jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Menurut Baqaei, pembahasan bersama Muscat sepenuhnya diarahkan untuk memastikan kapal-kapal dapat melintas dengan aman di tengah situasi kawasan yang masih memanas.
“Kami saat ini berdiskusi dengan Oman untuk memastikan pelayaran yang aman di Selat Hormuz. Kami berupaya membangun jalur sementara secepat mungkin agar keselamatan pelayaran dapat terjamin,” ujar Baqaei, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Fars.
Di saat yang sama, Iran juga membantah keras kabar bahwa mereka sedang menggelar perundingan dengan Amerika Serikat.
“Kami tidak sedang berunding dengan Amerika Serikat,” tegas Baqaei, sekaligus mematahkan pernyataan Donald Trump yang sehari sebelumnya mengklaim pembicaraan dengan Teheran akan dimulai pada Senin sore.
Trump sebelumnya menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan terkait keamanan Selat Hormuz dan program denuklirisasi Iran dapat segera tercapai. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Iran.
Baqaei menegaskan kondisi di Selat Hormuz tidak akan berubah selama Amerika Serikat masih mempertahankan kebijakan yang dinilai agresif serta terus melanjutkan blokade terhadap Iran.
Pernyataan saling bertolak belakang dari kedua negara kembali memperlihatkan ketegangan hubungan Washington dan Teheran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah situasi tersebut, Selat Hormuz tetap menjadi titik perhatian dunia karena jalur ini merupakan urat nadi perdagangan energi global.
Selat Hormuz menjadi penghubung utama distribusi minyak mentah dan gas alam dari kawasan Teluk menuju berbagai negara di dunia. Setiap perkembangan yang terjadi di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi internasional sekaligus memicu gejolak harga minyak di pasar global. (Sumber: Anadolu)





