KITAINDONESIASATU.COM- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membeberkan adanya dugaan praktik pemotongan insentif bagi sopir angkot di jalur Puncak, Kabupaten Bogor, yang diduga dilakukan oleh oknum-oknum tertentu.
Insentif tersebut, yang diberikan oleh pemerintah provinsi selama Lebaran, seharusnya bernilai Rp1 juta, namun ternyata hanya diterima sebesar Rp800 ribu oleh para sopir.
“Informasi yang saya terima sangat mengejutkan, dan saya segera mengutus Haji Mumu untuk melakukan investigasi langsung di lapangan. Ternyata, benar ada pemotongan sebesar Rp200 ribu yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Dedi dalam konferensi pers, Kamis 3 April 2025 kemarin.
Dedi menjelaskan bahwa uang yang dipotong tersebut diduga disalurkan kepada pihak-pihak yang mengatasnamakan organisasi pengelola angkot, dengan alasan sebagai ‘keikhlasan yang ditargetkan’. Seorang sopir angkot, Emen, yang sudah berprofesi sejak 1996, mengungkapkan bahwa praktik ini telah berlangsung cukup lama dan merugikan mereka sebagai penerima manfaat.
Demi memastikan tidak terulangnya kejadian serupa, Dedi menegaskan akan segera mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat. “Jika ada yang memotong hak mereka, saya akan proses secara hukum,” tegasnya, seperti yang dikutip dalam tayangan YouTube di kanal pribadinya.
Lebih lanjut, Dedi menyatakan bahwa ke depan, bantuan insentif akan disalurkan langsung melalui rekening bank untuk meminimalisir potensi pemotongan oleh oknum tertentu.
Selain itu, dirinya juga mencanangkan solusi jangka panjang untuk sektor angkutan umum di Bogor, termasuk menggandeng perusahaan mobil listrik agar para sopir angkot dapat memiliki kendaraan tanpa uang muka.
Kasus ini masih dalam proses investigasi, dan Gubernur Dedi Mulyadi berkomitmen untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan pemerintah dapat diterima sepenuhnya oleh para sopir angkot yang berhak.(Nicko/Yo)
