KITAINDONESIASATU.COM – Universitas Trisakti menyelenggarakan prosesi Wisuda Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026 di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Selasa (5/5/2026).
Dalam kesempatan ini, universitas yang dikenal sebagai Kampus Pahlawan Reformasi tersebut resmi meluluskan 1.746 wisudawan dari masing-masing Fakultas dan Program Studi.
Rinciannya terdiri dari Program Doktor 77 orang, Program Magister 314 orang, Program Sarjana 942 orang, Program Spesialis 14 orang, Program Profesi 334 orang, Program Diploma IV 5 orang, dan Program Diploma III sebanyak 60 orang.
Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, IPU, ASEAN Eng, dalam sambutannya menekankan visi besar dari Universitas Trisakti ini untuk menjadi Entrepreneurial University.
Visi ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu keunggulan dalam belajar mengajar, keunggulan riset, serta keunggulan inovasi dan kewirausahaan.
“Kami sedang melangkah secara konsisten menuju visi sebagai Entrepreneurial University. Tujuannya adalah melahirkan lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menjadi wirausahawan mandiri melalui fasilitas seperti inkubator bisnis dan kolaborasi erat dengan jejaring alumni,” ujar Prof. Kadarsah di hadapan para wisudawan dan orang tua.
Selain itu, Prof. Kadarsah juga menyampaikan salah satu poin penting yaitu pencapaian luar biasa Universitas Trisakti dalam dunia kerja global.
Berdasarkan World University Rankings (WUR) 2026 pada kategori Employability, Universitas Trisakti berhasil menempati peringkat pertama universitas swasta di Indonesia untuk tingkat serapan kerja terbaik, dan peringkat keenam secara nasional.
“Capaian dengan skor 41,1 ini mencerminkan kekuatan reputasi akademik dan relevansi kurikulum kami yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja global,” tambahnya.
Selain menyampaikan prestasi yang sudah dicapai Universitas Trisakti, Prof. Kadarsah juga memberikan pesan kepada para wisudawan untuk bisa beradaptasi dan berinovasi agar memiliki kesiapan menghadapi tantangan global.
“Kita menghadapi era digital, krisis energi, perubahan iklim, dan dinamika global yang tidak pasti. Saya titip kepada para wisudawan untuk terus mampu beradaptasi dan selalu berinovasi,” katanya.
Ia mendorong para lulusan Universitas Trisakti untuk menjadi pemimpin yang memberi manfaat luas.
“Pemimpin adalah manusia biasa yang berkarya luar biasa, yaitu yang memberikan manfaat kepada orang banyak,” ujar Prof. Kadarsah.

Komitmen lifelong learning
Prof. Kadarsah menegaskan bahwa hubungan antara kampus dan alumni tidak berakhir di meja wisuda. Melalui program Lifelong Learning, Universitas Trisakti menyediakan berbagai pelatihan, seminar, dan workshop berkelanjutan bagi para alumni guna meningkatkan kapasitas mereka di dunia profesional.
“Pendidikan adalah cara untuk memutus rantai ekonomi dan menghasilkan sumber daya manusia produktif yang membangun bangsa. Lewat perangkat digital, akses pengetahuan kini semakin demokratis, dan kami ingin memastikan alumni kami terus mendapatkan akses tersebut meski sudah lulus,” ungkapnya.
Lulus S1 adalah fase awal hadapi dunia nyata
Dalam kesempatan yang sama, hadir Menteri UMKM sekaligus Ketua Umum Ikatan Alumni Trisakti (IKA Trisakti) periode 2025–2029, Maman Abdurrahman memberikan orasi di hadapan para wisudawan.
Maman menegaskan bahwa lulusan sarjana (S1) merupakan fase awal untuk menghadapi realitas kehidupan yang lebih kompleks dibandingkan masa perkuliahan.
“Pada saat kalian masuk ke dalam fase alumni, terjun ke dalam dunia yang sebenarnya, di situlah letak tantangannya,” ujarnya.
Ia mengingatkan para lulusan agar mampu memaknai setiap pengalaman sebagai proses pembelajaran.
“Pasca dunia kealumnian, kalian harus mampu melihat segala sesuatu, baik itu yang baik maupun buruk, sebagai peluang ataupun bahan evaluasi,” kata Maman.
Indeks Prestasi (IP) bukan ukuran keberhasilan
Menurutnya, Indeks Prestasi (IP) bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan dunia kerja.
“Mengukur kesuksesan seseorang adalah bagaimana kalian mampu melihat setiap proses perjalanan hidup sebagai bagian dari evaluasi diri,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menciptakan dampak nyata melalui karya dan kontribusi.
“Tingkat pencapaian tertinggi manusia adalah ketika ia mampu menghasilkan legacy positif bagi lingkungan dan institusinya,” ungkap Maman.
Ia juga mendorong lulusan untuk menjadi pribadi yang inspiratif serta tetap menjaga hubungan dengan almamater.
Menurutnya, Universitas Trisakti merupakan ‘kawah candradimuka’ yang membentuk karakter dan kesiapan menghadapi masa depan.
“Jangan pernah ragu, mereka adalah calon penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa,” ucapnya.
Pendidikan Harus Berdampak Nyata
Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah III, Henri Tambunan, menilai Universitas Trisakti memiliki posisi strategis dalam pendidikan tinggi nasional.
“Menjaga standar mutu lulusan dari berbagai disiplin ilmu dalam satu institusi besar membutuhkan tata kelola akademik yang tangguh,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsep pendidikan berdampak dalam kebijakan pendidikan tinggi saat ini.
“Pengetahuan dan kompetensi tidak boleh hanya berhenti sebagai dokumen. Harus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tegas Henri.
Henri juga berharap, lulusan Universitas Trisakti tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan adaptasi, dan kepekaan sosial.
“Jadilah pemecah masalah di lapangan yang memegang teguh etika dan mampu beradaptasi dengan perubahan,” pesannya.(*)
