KITAINDONESIASATU.COM – Fenomena astronomi langka bakal menghiasi langit pada 17 Februari mendatang. Bulan baru akan memicu gerhana matahari cincin, dengan sebagian fase gerhana terlihat di wilayah Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, Samudra Pasifik, Samudra Atlantik, Samudra Hindia, hingga sebagian besar kawasan Antartika.
Secara keseluruhan, peristiwa kosmik ini akan berlangsung selama 271 menit. Pada momen puncaknya, matahari akan menampilkan fenomena spektakuler berupa cincin api selama sekitar 2 menit 20 detik, yakni cahaya matahari yang masih terlihat di bagian terluar saat Bulan tidak sepenuhnya menutup piringan Matahari.
Jalur utama gerhana matahari cincin hanya dapat disaksikan di wilayah terpencil Antartika. Peristiwa ini akan dimulai pada 11.42 UTC, saat bayangan antumbra Bulan pertama kali menyentuh permukaan Bumi, membentuk jalur selebar 616 kilometer dengan panjang mencapai 4.282 kilometer.
Gerhana mencapai puncaknya pada 12.13 UTC, ketika Bulan menutupi hingga 96 persen permukaan Matahari. Fenomena ini kemudian berakhir dengan fase gerhana sebagian pada 14.27 UTC.
Namun di balik keindahannya, gerhana matahari cincin sangat berbahaya jika disaksikan tanpa pelindung mata khusus. Para ahli menegaskan, melihat gerhana ini secara langsung tanpa filter matahari berisiko menyebabkan cedera mata serius.
Tak hanya itu, penggunaan kamera, teleskop, teropong, atau perangkat optik lainnya untuk mengamati Matahari saat gerhana—bahkan sambil mengenakan kacamata gerhana—juga sangat dilarang. Sinar Matahari yang terfokus dapat menembus filter dan merusak retina secara permanen.
Berbeda dengan gerhana matahari total, gerhana matahari cincin tidak memiliki fase totalitas. Artinya, Matahari tidak pernah benar-benar tertutup sepenuhnya oleh Bulan. Inilah yang membuat paparan cahaya Matahari tetap berbahaya sepanjang peristiwa berlangsung.
Para pakar menegaskan, tidak ada dosis aman untuk paparan sinar ultraviolet maupun inframerah Matahari. Bahkan paparan dalam jumlah sangat kecil sekalipun tetap dapat merusak penglihatan.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menatap Matahari secara langsung, meski sedang terjadi gerhana. Jika ingin menyaksikan fenomena langka ini, pelindung mata dengan filter matahari khusus adalah syarat mutlak demi keselamatan penglihatan. (Sumber: NASA)
