KITAINDONESIASATU.COM – Tiga hari sebelum serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, wilayah Beit Hanoun masih dihiasi kebun buah seperti jambu biji dan delima.
Namun, di ladang tersebut, terlihat pejuang Hamas melakukan latihan militer. Latihan itu menjadi jelas tujuannya beberapa hari kemudian, mengubah dinamika kawasan secara drastis.
Kini, setelah 15 bulan konflik, Beit Hanoun hanya menyisakan reruntuhan yang diliputi asap hitam.
Namun, dengan dimulainya gencatan senjata, ada harapan bagi keluarga para sandera Israel dan warga Gaza untuk mengakhiri mimpi buruk mereka.
Asma Mustafa, seorang guru yang mengungsi ke kamp pengungsi Nuseirat, menggambarkan penderitaannya setelah kehilangan rumah dan kehidupannya akibat konflik ini.
Kondisi Gaza sangat memprihatinkan. 90% dari 2,3 juta penduduknya telah kehilangan tempat tinggal dan hampir 47.000 orang tewas.
Di sisi lain, keluarga sandera Israel terus menghitung waktu sejak serangan Hamas yang menewaskan 1.200 orang dan menculik 250 lainnya.
Pada Minggu sore, suasana di Israel dan Palestina dipenuhi harapan. Militer Israel mengonfirmasi pembebasan tiga sandera wanita pertama: Emily Damari, Romi Gonen, dan Doron Steinbrecher.
Damari dan Steinbrecher sebelumnya diculik dari rumah mereka di Kfar Aza, sementara Gonen diculik dari festival musik Nova. Setelah lebih dari setahun tanpa kabar, video dari Hamas yang dirilis pada Januari 2024 menunjukkan Steinbrecher dalam kondisi lemah.
Gencatan senjata ini juga membawa kebahagiaan di Gaza. Banyak warga yang mulai mengemasi barang-barang mereka untuk kembali ke rumah yang hancur.
Rumah sakit di Gaza melaporkan penurunan jumlah korban untuk pertama kalinya dalam 15 bulan.
Di Tepi Barat, keluarga menanti dengan gembira pembebasan 90 tahanan Palestina sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran sandera.
Namun, masa depan tetap tidak pasti. Israel berkomitmen untuk membasmi Hamas, sementara warga Palestina khawatir jeda ini hanya sementara.
Konflik ini juga berdampak luas, melibatkan sekutu Iran di Timur Tengah, dengan PBB memperkirakan butuh ratusan tahun bagi Gaza untuk pulih.
Meskipun demikian, keluarga sandera yang dipulangkan merasakan kebahagiaan mendalam. Yarden Gonen, saudara perempuan Romi, menggambarkan keyakinannya bahwa adiknya akan kembali.
Pada Minggu malam, keyakinan itu terbayar ketika Romi kembali ke pelukan keluarganya.- ***
Sumber: The Guardian

