KITAINDONESIASATU.COM – Sosok viral wanita Ponorogo Dewi Astutik (42) yang disebut sebagai gembong nakotika internasional yang sebelumnya menjadi boron Badan Narkotika Nasional (BNN) di Kamboja adalah wanita dari desa.
Bahkan nama Dewi Astutik bukan nama sebenarnya, ia diketahui bernama Pariyatin seorang wanita yang dinikahi seorang pria bernama Sarno warga Sumber Agung, Desa Balong, Kabupaten Ponorogo.
Menurut informasi Pariyatin sendiri diketahui berasal dari Desa Broto, Kecamatan Slahung tetangga kecamatan dengan Balong kemudian tinggal bersama suaminya.
Sang suami Sarno mengaku syok, kaget, dan sedih, ketika mendengar istrinya Pariyatin ditangkap BNN di Kamboja, ia tidak mengira jika istrinya seorang gembong narkoba internasional.
Dilansir dari Radion Gemasurya Ponoorgo keluarga mengetahuinya dari foto dan video yang beredar di media sosial, di mana Dewi Astutik yang ditangkap itu merupakan Pariyatin, istrinya.
Sarno tak bisa berbuat banyak lantaran saat pamit bekerja di luar negeri, istrinya mengaku sebagai asisten rumah tangga sehingga tidak mengetahui pasti sepak terjangnya di negara orang.
Sarno kemudian menjelaskan jika istrinya saat menjadi sebagai TKW tahun 2013 lalu sebagai pekerja di Taiwan dengan menggunakan nama pospor adik kandungan Dewi Astutik.
Sarno suami Dewi Astutik hidup sederhana bersama dua putri kembarnya hasil pernikahan dengan istrinya Pariyatin atau Dewi Astutik menempati rumah berukuran 8 X 12 meter persegi.
Pariyatin dan Sarno (51) memiliki dua putri kembar, yang ditinggal ibunya sejak berusia 4 tahun merantau ke Taiwan dengan niat memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
Saat kepergiannya ke Taiwan itulah kemudian Pariyatin menggunakan identitas adiknya Dewi Astutik hingga bekerja selama 11,5 tahun di luar negeri 10 tahun di Taiwan dan sekitar 1,5 di Kamboja.
Sarno mengakui Pariyatin menggunakan nama adik kandungnya saat merantau ke Taiwan dengan nama Dewi Astutik.
Selama merantau Pariyatin tidak pernah pulang, komunikasi juga jarang dilakukan paling cepat selama sebulan sekali dengan menelepon keluarga di Ponorogo.
Bertahun-tahun bekerja di luar negeri nampaknya juga tidak membuat kehidupan ekonomi keluarganya lebih baik, namun terlihat biasa-biasa saja.
Sarno sendiri sehari-hari masih bekerja keras untuk menghidupi dua anaknya hasil pernikahan dengan Pariyatin dengan melakukan pekerjaan serabutan yang ada di kampung halamannya.
Pada tahun 2023 istrinya hampur 1 tahun berada di kampungnya di Balong saat itu ia pulang dari Taiwan, setelah 10 tahun bekerja di sana dan sempat membuka usaha juanal nasi bungkus.
Kemudian pada akhir tahun Pariyatin kembali hendak bekerja ke luar negeri lagi, katanya kembali bekerja di tempat bosnya sebelumnya di Taiwan, namun ternyata berada di Kamboja.
Komunikasi dengan istrinya terputus setelah kasus narkoba yang dikabarkan melibatkan istrinya itu hingga sekarang sudah tidak pernah ada kontak lagi.
Pada tahun 2023 sempat pulang ke kampung halaman dan tahun 2024 sebelum puasa, izin kembali ke luar negeri.
Sebenarnya sempat melarang istrinya berangkat lagi namun tetap nekat sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.
Sarno mengaku tidak tahu sama sekali jika ternyata kepergian Dewi Astutik yang terakhir itu ke negara Kamboja.
Awal berangkat dulu, Sarno mengaku dirinya masih berkomunikasi dengan istrinya, namun sejak kasus narkoba itu mencuat, dirinya dan istri lost contact.
Dengan jeratan hukum yang menimpa istrinya itu, Sarno mengaku menyerahkan semuanya ke pihak berwenang.
Sementara dari pembicaraan di media sosial di antara para pekerja TKW mengungkapkan pernah melihat sosok wanita itu sebegelumnya di Taiwan kemudian pindah ke Hong Kong.
Sosok Dewi Astutik (42) sendiri sebelumnya viral di media sosial setelah kembali disebut sebagai buronan Badan Narkotika Nasional (BNN), yang disebut sebagai aktor penyelundupan 2 ton sabu di Kepulauan Riau Rabu, 21 Mei 2025.
Sosok Dewi Astutik seorang wanita disebut sebagai gembong narkoba antara provinsi dan antar negara berasal dari salah satu desa di bagian selatan kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Dari identitas yang beredar di sosial media Dewi Astutik seorang wanita kelahiran Ponorogo 8 April 1983 beralamat di Dukuh Sumberagung, Desa Balong, Kabupaten Ponorogo.
Seorang warga Dukuh Sumber Agung, Sri Wahyuni mengaku mengenal foto dalam paspor disebut bernama Dewi Astutik yang tinggal di alamat tersebut.
Sri Wahyuni membenarkan jika dia adalah wanita yang menikah dengan tetangganya, tetapi namanya bukan Dewi Astutik, dia mengenal dengan sebutan Pariyatin.
Wanita itu kata Sri Wahyuni menikah dengan salah satu warga bernama Sarno setempat dan sempat berpamitan dan akan berangkat ke Kamboja pada tahun 2023 lalu.
KIni Dewi Astutik alias Pariyatin merupakan jaringan nakorba Kamboja, Nigeria dan Brasil yang aktif merekrut WNI untuk bergabung dengan jaringannya.
Para WNI itu kemudian ditugaskan sebagai kurir di berbagai negara, kini Pariyatin merekrut para WNI yang jobless di Kamboja untuk mengedarkan jaringan di Indonesia, Laos, Hong Kong, Korea, Brasil dan Ethiopia.
Sebagaimana diketahui Dewi Astutik alias Pariyatin ditangkap di Kamboja Senin (1/12/2025) oleh BNN bekerjasama dengan Interpol melalui operasi senyap tanpa perlawanan saat penangkapan.
Diketahui wanta ini adalah bagian dari pengendali narkotika jaringan internasional dari kawasan Golden Triangle, kerap berpinda-pindah mengelabuhi petugas.
Nama Dewi Astutik telah resmi masuk dalam red notice Interpol sejak 3 Oktober, yang juga merupakan buron dari pemeintah Korea Selatan. **


