Jika tren ini dibiarkan, krisis energi bisa berdampak pada pemadaman besar-besaran dan mengganggu layanan digital vital. Elon Musk menilai ketidakseimbangan ini menjadi ancaman serius bagi infrastruktur global.
Sebagai respons, Elon Musk mengungkap gagasan radikal dalam peringatan Elon Musk soal krisis energi AI, yakni memindahkan sebagian komputasi ke luar angkasa.
Rencana tersebut mencakup peluncuran hingga satu juta satelit kecil bertenaga surya, yang dirancang untuk menjalankan sistem kecerdasan buatan tanpa membebani jaringan listrik Bumi dan mengurangi risiko krisis energi.
Namun, ide ini menuai perdebatan. Sejumlah ilmuwan menilai rencana Elon Musk berpotensi memperparah kepadatan orbit rendah.
Badan Antariksa Eropa (ESA) bahkan memperingatkan bahwa peningkatan satelit bisa memicu risiko tabrakan berantai, yang pada akhirnya menciptakan ancaman baru di luar angkasa, meski tujuan awalnya adalah meredam krisis energi akibat kecerdasan buatan.
Sebagai data tambahan, Badan Energi Internasional (IEA) mencatat konsumsi listrik pusat data kecerdasan buatan global mencapai sekitar 480 TWh pada 2025, naik 35 persen dibanding tahun sebelumnya.





