Forum Grup Diskusi RJ2 Bersuara

Selain itu, forum juga mengkritisi potensi kebocoran anggaran. “Jika anggaran per porsi adalah 15.000 rupiah, namun yang sampai ke dapur hanya 10.000 rupiah, hal ini yang harus diawasi,” ujar M. Kunang, pembicara dari Tim Hukum Merah Putih. Model dapur terpusat skala besar dinilai rawan menjadi ladang penyelewengan oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab. Solusinya adalah Desentralisasi dan Pemberdayaan Komunitas
Sebagai respons, “RJ2 Bersuara” merumuskan beberapa solusi strategis. Usulan utamanya adalah mengubah skema dari dapur skala besar yang terpusat, menjadi dapur skala kecil yang terdesentralisasi dengan memberdayakan komunitas lokal.
“Daripada membangun dapur baru yang mahal dan rawan masalah, lebih baik memberdayakan kantin sekolah, ibu-ibu PKK, orang tua murid, dan UMKM katering lokal yang sudah ada di sekitar sekolah,” tegasnya lagi.
Solusi ini diyakini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
1. Meminimalisir risiko: karena dikelola oleh orang tua dan lingkungan sekolah, pengawasan kualitas dan kebersihan akan lebih terjaga.
2. Memangkas penyelewengan: anggaran dapat langsung disalurkan ke unit-unit kecil yang lebih mudah diawasi.
3. Memberdayakan ekonomi lokal: menghidupkan UMKM lokal dan memastikan perputaran uang terjadi di tingkat akar rumput.
Integrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Dana Desa
FGD ini juga mengusulkan agar program MBG diintegrasikan secara sinergis dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Dana Desa.
“Gagasan kami adalah Koperasi Desa Merah Putih dapat berperan sebagai penyedia modal bagi UMKM dapur lokal dan sekaligus menjadi pemasok bahan baku (supplier) yang diambil langsung dari pera petani, nelayan, peternak dan pedagang setempat,” jelas konseptor acara tersebut. Dengan demikian, program MBG tidak hanya mengatasi stunting, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi desa.
Tidak hanya sampai dengan pengelolaan dapur MBG, solusi integrasi ini juga diharapkan dapat memperbaiki perekonomian lokal di desa serta pemberdayaan SDM dan SDA secara optimal.


