KITAINDONESIASATU.COM – Kelompok kerja dari Rumah Juang Relawan Jokowi (RJ2) – Prabowo Gibran “RJ2 Bersuara” hari ini menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) untuk mengupas tuntas implementasi program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG), Dana Desa & Koperasi Desa Merah Putih, Minggu, 26/10.
Forum Grup Diskusi ini diinisiasi oleh Frits Tanod, yang juga menjabat sebagai ketua umum Bara Garda, Utje Gustaaf Patty selaku kuncen RJ2, serta M. Kunang & Suhadi dari Tim Hukum Merah Putih, yang dalam acara ini juga selaku pembicara / moderator.
Acara yang dihadiri oleh lebih dari 200 tamu undangan meliputi perwakilan dari Kementerian Koperasi, Ketua Umum serta beberapa perwakilan dari pengurus 80 organisasi relawan Jokowi – Prabowo Gibran, para praktisi, dan pelaku UMKM ini menyoroti sejumlah isu krusial di lapangan sekaligus menawarkan solusi mitigasi yang komprehensif.
Diskusi memusatkan perhatian pada dua permasalahan utama yang mengkhawatirkan publik, yaitu maraknya kasus keracunan massal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibeberapa sekolah di wilayan Indonesia dan juga adanya potensi pembengkakan anggaran dalam program ini.
Utje Gustaaf Patty selaku kuncen dari RJ2 menyampaikan sambutan untuk membuka acara forum grup diskusi ini. Tidak lupa beliau juga menyampaikan untuk para relawan supaya dapat memanfaatkan alamat RJ2 sebagai sekretariat.
“RJ2 ini adalah Rumah kita bersama, rumah relawan. teman-teman yang tidak punya Sekretariat, boleh memakai alamat ini, boleh berkantor disini. tentunya dengan segala keterbatasan yang ada,” ujarnya.
Utje juga menyampaikan bahwa acara ini merupakan solusi praktis yang coba ditawarkan oleh penyelenggara kepada pemerintah untuk bagaimana adanya sinergi antara MBG, KDMP dan Dana Desa, sehingga ketika anggaran dielaborasi maka sasaran dan penyerapannya akan lebih lebih tepat.
Para peserta sepakat bahwa berbagai insiden keracunan yang terjadi bukanlah sebuah bentuk sabotase, melainkan akibat dari kelalaian tata kelola. Masalah utamanya terletak pada standar kebersihan dapur, kualitas air yang buruk, penggunaan alat masak yang tidak sesuai standar (non-food grade), pengemasan dan proses memasak yang terlalu dini (misalnya jam 2 subuh) sehingga makanan basi saat dikonsumsi.


