NewsBerita Utama

Fenomena Migrasi Ribuan Burung ke Tulungagung dan Trenggalek saat China dan Rusia Dilanda Salju

×

Fenomena Migrasi Ribuan Burung ke Tulungagung dan Trenggalek saat China dan Rusia Dilanda Salju

Sebarkan artikel ini
burung trinil
Ilustrasi ribuan burung dari China dan Rusia serbu Tulungagung dan Trenggalek. ilustrasi AI

KITAINDONESIASATU.COM – Setiap tahun ketika belahan bumi utara memasuki musim dingin, hamparan persawahan di wilayah Tulungagung, Jawa Timur rata-rata memasuki musim tanam, sebagian masih mempersiapkan tanam.

Banyak area persawahan di kawasan ini melimpah adanya makanan yang tersedia,s ementara kehidupan di belahan utara sangat dingin tidak ada makanan.

Oleh karena itu kini burung-burung dari daerah itu bermigrasi ke lokasi udara tropis dengan makanan yang melipah, hingga mereka ke arah kawasan persawahan ini yang mereka tuju.

Kini persawahan dilayah Tulungagung dan sekitarnya menjadi tuan rumah bagi para pengembaraan sayap burung-burung migran yang menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju wilayah Jawa Timur.

Mereka datang dari wilayah seperti China dan Rusia untuk singgah sementara sambil beristirahat menungu udara es mencair dihabitatnya, dan sembari mencari makan di wilayah tropis Indonesia, khususnya di wilayah Trenggalek dan Tulungagung.

Baca Juga  Prabowo Luncurkan Program Smartboard, Dorong Digitalisasi Belajar di Sekolah

Fenomena ini tidak hanya menjadi keajaiban alam yang memukau, tetapi juga menjadi ajang edukasi dan koneksi dengan alam melalui kegiatan yang dikenal sebagai Bird Walk.

Bird Walk adalah kegiatan pengamatan burung migran yang digelar di area persawahan Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung.

Diselenggarakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama komunitas pecinta alam dan mahasiswa pecinta burung (Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung), acara ini memberi kesempatan bagi peserta untuk mengamati langsung burung yang datang dari jauh menggunakan teropong dan binocular.

Baca Juga  Tim SAR Hentikan Pencarian Penggembala Kerbau yang Hilang di Sungai Cikandang Garut

Kegiatan ini bukan sekadar jalan santai di sawah, melainkan momen belajar tentang keanekaragaman hayati, perilaku burung, serta pentingnya menjaga habitat dan jalur migrasi mereka.

Selama musim migrasi, petugas BBKSDA dan komunitas pencinta burung mencatat beberapa spesies burung migran yang singgah di Tulungagung.

Lalu jenis burung apa saja yang singgah di wilayah Tulungagung ini? berikut daftarnya:

Trinil Pantai (Actitis hypoleucos)
Trinil Semak (Tringa glareola)
Kicuit Kerbau (Motacilla tschutschensis)
Cerek Kernyut (Pluvialis fulva)
Cerek Kalung-Kecil (Charadrius dubius)
Terik Asia (Glareola maldivarum)
Layang-layang Asia (Hirundo rustica)

Burung-burung ini biasanya bermigrasi sejak bulan Oktober hingga bulan Maret – April, menempuh perjalanan panjang dari belahan bumi utara ke wilayah tropis demi mendapatkan sumber makanan yang melimpah ketika musim dingin melanda habitat asli mereka.

Baca Juga  Waspada Hujan! Prakiraan Cuaca Jakarta Minggu, 30 November

Migrasi burung adalah strategi bertahan hidup, ketika musim dingin tiba di China dan Rusia, suhu turun drastis dan pasokan makanan seperti serangga dan invertebrata menjadi sangat sedikit.

Untuk menemukan cukup makanan dan kondisi hidup yang lebih ramah, burung-burung ini terbang jauh ke selatan — termasuk ke wilayah Jawa Timur — di mana cuaca lebih hangat dan makanan lebih tersedia.

Area persawahan di Tulungagung menyediakan habitat sementara yang ideal ada air yang tergenang dan permukaan tanah yang kaya pakan membuatnya menjadi lokasi singgah yang cocok bagi burung migran.

Selain itu, wilayah ini kini menjadi spot favorit para birdwatcher dan mahasiswa yang ingin menyaksikan langsung keindahan fenomena migrasi tahunan ini.

Keberadaan burung-burung migran ini juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga lingkungan dan tidak mengganggu atau memburu satwa yang singgah.

Burung-burung ini adalah bagian dari ekosistem global — dan kedatangannya memberi warna tersendiri bagi kekayaan alam Indonesia. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *