KITAINDONESIASATU.COM – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran melawan koalisi Israel dan Amerika Serikat terus menunjukkan tren yang mengerikan. Hingga Rabu (4/3/2026), laporan terbaru mencatat total korban tewas telah melonjak menjadi 787 orang. Angka ini merupakan korban jiwa di Iran yang diperoleh dari Bulan Sabit Merah dilansir Al Jazeera.
Situasi di jalur perdagangan energi dunia juga semakin kritis. Menanggapi ancaman sabotase dan serangan rudal dari kelompok pro-Iran, Pentagon secara resmi mengumumkan rencana pengawalan militer terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas pasokan minyak global yang mulai terguncang akibat blokade parsial di jalur sempit tersebut.
AS telah mengerahkan gugus tempur kapal induk tambahan ke Laut Arab untuk memperkuat pengamanan navigasi internasional. Di sisi lain, Iran memperingatkan bahwa campur tangan militer AS di wilayah perairan mereka hanya akan memperluas cakupan perang dan membahayakan aset-aset Barat di Timur Tengah.
Di tengah gempuran udara yang terus berlangsung, seruan gencatan senjata dari dunia internasional belum membuahkan hasil. Krisis kemanusiaan di wilayah konflik dilaporkan semakin memburuk seiring terhambatnya distribusi bantuan medis.
Para analis mengkhawatirkan jika ketegangan di Selat Hormuz pecah menjadi kontak fisik langsung, harga minyak mentah dunia bisa melonjak ke level yang tidak terprediksi.(*)


