Lebih lanjut Ani mengatakan, Jakarta Barat dipilih karena merupakan salah satu wilayah yang memiliki status kasus DBD tinggi dibandingkan dengan wilayah Jakarta lainnya.
Menurut data, di Jakarta sendiri lonjakan kasus DBD yang cukup tinggi pada 2024 terjadi sekitar bulan Maret-Mei. Secara angka hingga September tahun ini, Jakarta sudah 12.000 lebih kasus DBD.
Pada Maret saja, tercatat 2.200 kasus DBD, lalu melonjak di April jadi 3164 kasus dan mulai menurun pada Mei dengan 3019 kasus. Hingga saat ini, status kasus DBD pun terus menurun.
Khusus di Jakarta, Jakarta Barat tercatat telah terjadi 716 kasus, disusul Jakarta Selatan 576, Jakarta Timur 562, Jakarta Utara 262 kasus, Jakarta Pusat 172 dan Kepulauan seribu 18 kasus.
Meskipun nantinya nyamuk tersebut sudah dilepaskan, Ani mengatakan kegiatan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dan 3M Plus tetap perlu dilakukan.
“Sebenarnya teknologi wolbachia ini merupakan salah satu inovasi yang melengkapi strategi pengendalian yang sudah tertuang sebelumnya di dalam strategi nasional tentang pengendalian dengue,” ucap Ani.
800 Orang Tua Asuh
Ani menjelaskan, telah disediakan sebanyak 800 orang tua asuh yakni rumah-rumah yang nantinya akan dititipkan ember berisi telur-telur nyamuk aedes aegypti berwolbachia.
