News

Di Hari Sumpah Pemuda, Pemerintah Canangkan Gerakan Pemulihan Hulu Ciliwung

×

Di Hari Sumpah Pemuda, Pemerintah Canangkan Gerakan Pemulihan Hulu Ciliwung

Sebarkan artikel ini
Hari Sumpah Pemuda
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Dalam momentum tersebut, ia mengajak masyarakat menjaga dan memulihkan ekosistem hulu Sungai Ciliwung. (KIS/ist)

KITAINDONESIASATU.COM– Krisis iklim yang kian terasa dari hulu hingga hilir mendorong pemerintah bergerak cepat. Pada momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, Kementerian Lingkungan Hidup menggaungkan ajakan nasional untuk memulihkan ekosistem di hulu Sungai Ciliwung – salah satu sumber kehidupan utama bagi jutaan warga di Jabodetabek.

Ajakan itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Lingkungan Hidup (LH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, usai memimpin upacara Hari Sumpah Pemuda di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Selasa 28 Oktober 2025.

Dalam kesempatan itu, Hanif juga menetapkan 53 Komunitas Sungai Ciliwung, yang tersebar dari Cisarua, Kabupaten Bogor hingga Sawah Besar, Jakarta, sebagai bagian dari gerakan bersama menjaga dan memulihkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

Baca Juga  Jadwal Salat Jakarta: Jumat, 6 Februari 2026

“Hari ini kita ingin menjadikan momentum Sumpah Pemuda ini untuk merefleksi upaya-upaya kita dalam kerangka pemulihan lingkungan hidup,” ujar Hanif Faisol.

Hanif menegaskan, dunia kini tengah menghadapi triple planetary crisis perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

Dalam konteks tersebut, kawasan hulu dan puncak memiliki peran vital menjaga keseimbangan alam bagi wilayah hilir. Ia mengingatkan bahwa DAS Ciliwung seluas 42,6 ribu hektare dihuni lebih dari 3,5 juta jiwa, angka besar yang menuntut kehati-hatian dalam menata kebijakan lingkungan.

Kementerian Lingkungan Hidup, kata Hanif, telah melakukan sejumlah simulasi pemulihan alur air Sungai Ciliwung, baik melalui penanaman vegetatif maupun pembangunan embung-embung penampung air. Sebagai langkah nyata, Kementerian bersama masyarakat, PTPN, dan KSO menanam 15 ribu pohon serentak di kawasan hulu Ciliwung upaya memperkuat resapan air sekaligus menstabilkan fungsi ekologi di kawasan puncak.

Baca Juga  Dipicu Mengantuk, Kecelakaan di Tol Mojokerto-Jombang Separah ini Pengemudi Selamat

“Ada hampir 700 meter persegi embung dengan kedalaman tertentu yang harus kita bangun di titik-titik kulminasi air yang mengalir ke Sungai Ciliwung. Ini memerlukan kerja keras kita semua,” jelasnya.

Hanif menekankan pentingnya kolaborasi lintas wilayah, dari Pemerintah Kabupaten dan Kota Bogor hingga Pemprov DKI Jakarta, karena kondisi hulu seperti Megamendung dan Cisarua akan sangat menentukan keberlangsungan ekosistem di hilir. Ia juga menegaskan bahwa pendekatan berbasis ekologi perlu diperkuat, termasuk dengan evaluasi pemberian sanksi agar benar-benar mampu mendorong perubahan perilaku dan kebijakan berkelanjutan.

Baca Juga  RESMI! Daftar UMK Jabodetabek 2026, Kota Mana yang Paling Tinggi?

“Kita harus meletakkan persoalan lingkungan pada asas yang benar. Pelaku usaha di kawasan puncak wajib menginvestasikan keberlanjutan dengan mengembalikan fungsi tata lingkungan, terutama hidro-orologis kita,” tegas Hanif.

Dengan ditetapkannya 53 Komunitas Ciliwung, pemerintah berharap setiap segmen dan lekukan Sungai Ciliwung memiliki penjaga yang aktif dan konsisten dalam pelestarian sungai.

“Kami akan mendukung penuh langkah yang dilakukan komunitas, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengembalikan Sungai Ciliwung. Hulu DAS ini sangat penting dan menjadi perhatian kita semua,” pungkasnya. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *