Selain program yang berjalan, Pemkot Bogor berencana meluncurkan aplikasi khusus yang berfungsi memberikan informasi detail kepada para pemangku kepentingan. Aplikasi ini nantinya memuat perkembangan balita maupun anak stunting secara real time, sekaligus memudahkan koordinasi.
“Dengan adanya aplikasi, kontribusi yang diberikan tidak sembarangan, melainkan sesuai kebutuhan anak-anak stunting. Ini penting agar terbangun chemistry, rasa memiliki, dan kebanggaan atas kontribusi yang diberikan,” terang Jenal.
Ia berharap aplikasi tersebut mampu membantu memetakan lokus terbesar maupun terkecil, sekaligus menentukan prioritas kelurahan yang akan mendapat program tambahan gizi. Dalam waktu dekat, Jenal bersama tim dan perangkat daerah terkait juga akan mengunjungi kasus-kasus stunting di enam kecamatan.
“Ketika hasil rakor jelas, insyaallah tiga kali rakor langsung kita tindaklanjuti dengan turun ke lapangan,” tegasnya.
Sebelum Rakor TPPS digelar, kegiatan diawali dengan pelantikan pengurus Perkumpulan Pejuang Keluarga Berencana atau Juang Kencana (Juken) Kota Bogor – Balai Diklat KKB Bogor periode 2025–2029, berdasarkan SK Ketua Juken Jawa Barat Nomor: 08/JUKEN JABAR./IX/2025. Dalam keputusan itu, Anggela Sri Melani Winyarti ditetapkan sebagai ketua.
Jenal mengungkapkan rasa bangga sekaligus syukur atas kiprah Juken Kota Bogor yang mayoritas beranggotakan para purna tugas. “Saya merasa bangga, di tengah masa pensiun masih memiliki kepedulian dan memberikan yang terbaik bagi Kota Bogor. Ini menjadi modal bagi kita semua agar lebih terinspirasi dan termotivasi,” tuturnya.
Ia meyakini, dengan komitmen bersama yang kuat serta rasa tanggung jawab yang besar, seluruh pihak yang terlibat mampu melaksanakan program dan rencana kerja sebagaimana amanat musyawarah nasional maupun musyawarah daerah Juken.
Pelantikan tersebut turut disaksikan Ketua Juken Jawa Barat Lili Sadeli, Koordinator BMG Kota Bogor, serta jajaran Pemerintah Kota Bogor. (Nicko)


