KITAINDONESIASATU.COM – Dampak dari merebaknya wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) di wilayah Soloraya, Jawa Tengah menyebabkan penjualan sapi di pasar Hewa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo benar-benar terpuruk.
Bagaimana tidak pada musim pasaran Jumat (3/12/2024) kemarin penjualan sapi di pasar itu turun drastis hingga mencapai 70 persen.
Bahkan kondisi pasar Hewan Bekonang sendiri terlihat sangat sepi tidak seramai pada hari-hari biasanya, sebelum mewabahnya kasus PMK.
Bahkan penjualan sapi di pasar hewan ini tak lebih dari 100 ekor sapi, pada hal sebelum adanya wabah PMK penjualan bisa mencapai dua kali lipat, bahkan hingga 300 ekor sapi.
Anjloknya harga sapi di wilayah Soloraya terjadi sejak dua pekan terakhir ini, hal ini seperti diungkapkan seorang pedagang sapi Antok.
Menurut Antok harga penjualan sapi anjlok hingga 70 persen karena dampak dari adanya wabah PMK tersebut.
Peternak Sapi di Bekasi Lapor Polisi karena Satu Hewannya Mati Diracun
Apalagi sebagian besar pedagang di Pasar Hewan Bekonang juga berasal dari luar Sukoharjo.
Peristiwa ini mengingatkan adanya kasus serupa pada tahun 2022 dimana pemerintah menetapkan status darurat penularan virus PMK di sejumlah daerah di tanah air.
Ia pun kemudian berharap agar masalah ini segera direspon oleh pemerintah untuk segera melakukan beragam upaya untuk pencegahan.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, Bagas Widaryatno mengatakan pihaknya sudah melakukan pengawasan.
Bahkan pengawasan diprioritaskan di pasar hewan, dimana lokasi penjualan di pasar hewan menjadi berkumpulnya ratusan ternak dari tempat lain dan berkumpul disatu lokasi.
Di sinilah cepat terjadinya penularan virus, karena itu pasar hewan ini menjadi prioritas utama pengawasan pencegahan penularan PMK.
Terkait situasi ini bahkan Pemerintah Kabupaten Wonogiri mengambil langkah cepat dengan menutup pasar hewan di wilayah itu selama seminggu sejak Jumay (3/1/2025) hingga enam hari ke depan.
Di Wonogiri diperkirakan PMK sudah menginfeksi sebanyak 310 sapi dengan catatan 57 di antara diketahui sudah mati dan 236 lainnya berhasil disembuhkan.
Menurut catatan Dinas Peternakan setempat, jumlah ternak sapi di Wonogiri jumlahnya mencapai 170.324 ekor dan kasus PMK sudah ditemukan di seluruh kecematan.
Sementara di wilayah Kabupaten Karanganyar kasus PMK juga seudah menjalar di 13 wilayah kecamatan yaitu Jaten, Jenawi, Karanganyar, Gondangrejo, Kebakkeramat, Karangpandan, Mojogedang, Tawangmangu, Jatipuro, Tasikmadu, Jumantono, Ngargoyoso, dan Jumapolo.
Hingga saat ini sudah ditemukan sebanyak 50 ternak terjangkit virus PMK dan dilaporkan sebanyak 9 ekor sapi ditemukan sudah meninggal dunia.
Begitu juga yang terjadi di Sragen setidaknya 64 ekor sapi diketahui mati akibat terjangkit virus PMK ini.
Pada Kamis (2/1/2025) lalu terdapat 746 sapi terpapar PMK yang tersebar di 20 kecamatan di sana dan 64 di antaranya mati.
Dari 64 ekor sapi yang mati 26 ekor di antaranya di potong terlebih dahulu oleh pemiliknya, hal ini dilakukan untuk meminimalisir kerugian.
Untuk kasus PMK di Sragen sendiri dari jumlah itu kasus terbanyak terjadi wilayah Kecamatan Sukodono terdapat 107 ekor sapi terinveksi PMK.
Disusul kecamatan Mondokan 92 kasus. Lalu berurutan Gesi dan Masaran 70 dan 63 kasus. **

