Ia juga mengingatkan bahwa pers tidak boleh tersingkir oleh algoritma. Cak Imin menegaskan teknologi dan kecerdasan buatan seharusnya berfungsi sebagai alat bantu kerja jurnalistik, bukan menggantikan nurani yang menjadi fondasi kualitas pers dan peran pers dalam demokrasi di era algoritma.
Lebih lanjut, Cak Imin menilai jurnalisme yang hanya mengejar kecepatan dan teknologi berisiko kehilangan makna. Tanpa etika dan verifikasi, kualitas pers dapat menurun dan menghasilkan informasi menyesatkan, meski didukung kecerdasan buatan dalam peran pers dalam demokrasi di era algoritma.
Ia menekankan pentingnya pers yang berorientasi pada nilai kemanusiaan.
Menurut Cak Imin, masyarakat membutuhkan informasi yang akurat, jujur, dan bermakna, bukan sekadar cepat, demi menjaga kualitas pers, memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak, dan memperkuat peran pers dalam demokrasi di era algoritma.***
