Warisan Nenek Moyang
Kepala Kemenag Kota Singkawang, Muhlis, menjelaskan bahwa kerukunan di kota ini sudah berlangsung sejak lama. “Kelenteng, gereja, pusat misi, dan masjid berdiri berdekatan di satu kawasan. Itu simbol perbedaan bisa hidup berdampingan tanpa meniadakan satu sama lain,” katanya.
Ia mencontohkan Festival Cap Go Meh yang pernah bertepatan dengan hari Jumat. “Begitu azan berkumandang, panitia menghentikan acara tanpa ada yang memerintah. Begitu pula saat Imlek, umat muslim ikut merayakan dengan mengenakan pakaian Tionghoa,” ujarnya.
Akbar, Kepala Kesbangpol Singkawang, menambahkan bahwa penolakan rumah ibadah nyaris tidak pernah terjadi. “Kalau warga setuju, maka rumah ibadah boleh berdiri tanpa hambatan. Bedanya dengan kota lain, kami rajin mendokumentasikan praktik toleransi ini sehingga bisa jadi bahan literasi dan edukasi,” katanya.
Kota Belajar Toleransi
As’ari, Ketua FKUB Singkawang, menegaskan bahwa toleransi sudah menjadi kebutuhan bersama warga kota. “Dalam Pilkada, warga tidak memilih berdasarkan agama atau etnis, melainkan komitmen dan integritas. Minoritas sekalipun bisa terpilih jika punya komitmen kuat,” katanya.
Karena reputasinya, Wali Kota Singkawang sering diundang sebagai pembicara di forum internasional terkait kerukunan umat beragama. Hingga Agustus 2025, tercatat sudah 78 daerah datang untuk belajar toleransi di kota ini, termasuk rombongan dari Kalimantan Selatan.
Dialog lintas daerah ini berlangsung lebih dari dua jam, dihadiri tokoh masyarakat, paguyuban suku, organisasi keagamaan, dan kelompok seni budaya. Rombongan FKUB Kalsel akhirnya harus melanjutkan perjalanan kembali ke Pontianak.

