News

BBM Satu Harga Tidak Belaku di Kecamatan Sumur, Pandeglang

×

BBM Satu Harga Tidak Belaku di Kecamatan Sumur, Pandeglang

Sebarkan artikel ini
nelayan
Foto istimewa

KITAINDONESIASATU.COM-BBM Satu Harga adalah program Pemerintah Indonesia yang menyediakan bahan bakar minyak (BBM) dengan harga yang sama di seluruh wolayah Indonesia. Program ini bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan pembangunan di seluruh negara. 

Akan tetapi program tersebut belum terlaksana di seulurh wilayah Indonesia. Yang sangat memprihatinkan yaitu harga BBM di sebagian wilayah Pulau Jawa  jauh elbih mahal dari yang ditentukan.

Seperti terjadi di Kampung Basisir, Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglan, Banten, harga BBM untuk nelayan lebih mahal Rp 1.771 per liter. Unruk itu nelayan Sumur mendesak pemerintah untuk segera menyamakan harga BBM. Caranya gimana? Yaitu membangunkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN, Karena SPBN sangat dibutuhkan oleh nelayan agar dapat menikmati BBM dengan harga bersubsidi.

Sampai saat ini sebagian besar nelayan sumur belum menikmati harga BBM bersubsidi, karena belinya dari pengepul yang memang sudah mendapatkan surat rekomendasi beli BBM bersubsidi.

Seperti dutarakan Agung, nelayan Kampung Basisir, karena tidak ada SPBN sekarang nelayan beli di pengepul.. “Beli dari pemilik modal yang punya rekomendasi beli BBM Subsidi. Sementara kita tidak bisa karena memang tidak ada SPBN,” katanya mengutip RadarBanten.co.id, kemarin.

Harga BBM dari pengepul tentunya jauh berbeda dianding dengan beli langsung ke SPBN. Pada saat ini harga BBM jenis solar bersubsidi itu Rp 6.800/liter. “Namun karena beli dari pengepul harganya menjadi Rp 8.571. Jadi beda Rp 1.771 per liter solar,” ungkap Agung.

Padahal, kebutuhan solar bagi nelayan untuk melaut dalam sehari setiap perahu sampai 100 liter. “Kalau selisih harganya Rp1.771 liter dikalikan 100 liter, maka sehari Rp 177.100. Uang sebesar itu kan lumayan buat menutupi kebutuhan ekonomi keluarga tiga sampai lima hari,” ujar Agung.

Oleh karena itu, lanjut AGung, para nelayan di Sumur berharap kepada pemerintah agar membangunkan SPBN di pusat sandar perahu nelayan. Sepertihalnya di Panimbang, dan Labuan. “Kalau di Panimbang nelayan mau melaut butuh BBM tinggal merapat aja ke dermaga. Jadi enak tinggal isi saja tanpa harus bawa jerigen,” katanya.

Agung mengakui sebenarnya di Kecamatan Sumur ada SPBN namun lokasinya jauh dari dermaga nelayan. Jadi berada di daratan yang jaraknya kurang lebih satu kilo. “Kalau kita mau beli ke sana harus pakai rekomendasi. Kalau hanya pakai Kartu Nelayan saja enggak berlaku karena kita belinya bawa jerigen,” katanya.

Sedangkan pihak SPBN, baru akan melayani menggunakan kartu nelayan ketika melihat perahunya. “Ya masak setiap kita mau beli BBM harus bawa kapal atau perahu ke SPBN. Ya tambah besar biayanya dong, sehingga tidak ada pilihan akhirnya kita beli dari pengepul,” katanya.

Agung menyayangkan, pihak-pihak yang telah memberikan rekomendasi kepada pelaku usaha mendirikan SPBN jauh dari kampung nelayan. Padahal seharusnya menjadi bahan pertimbangan bahwa setiap SPBN itu harus berada di pinggir laut dan dekat nelayan.“Kalau ini kan jauh. Dan kita kan belinya gak bisa pakai jerigen kalau tanpa ada rekomendasi, kondisi inilah yang membuat sulit nelayan kecil,” katanya.

Agung berharap, kepada Presiden Prabowo Subianto agar mengevaluasi aturan pembelian BBM bersubsidi. Serta membantu menyediakan SPBN dekat dengan nelayan.“Kalau kami dalam posisi serba salah, tidak beli ya tidak bisa melaut. Beli ya terpaksa dengan harga yang relatif lebih mahal,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *