KITAINDONESIASATU.COM – Direktur Utama PT Indonesia Battery Corporation (IBC), Toto Nugroho, resmi ditetapkan sebagai salah satu tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait tata kelola impor minyak mentah di lingkungan PT Pertamina Subholding periode 2018–2023. Penetapan ini berkaitan dengan perannya ketika menjabat sebagai VP Integrated Supply Chain VP Crude and Product di kantor pusat Pertamina pada tahun 2018–2020.
Yang menarik, penetapan Toto sebagai tersangka terjadi hanya beberapa hari setelah ia menemani Presiden Prabowo Subianto dalam agenda peresmian pembangunan proyek Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi milik Konsorsium ANTAM-IBC-CBL. Acara tersebut berlangsung pada Minggu, 29 Juni 2025, di Artha Industrial Hill, Karawang, Jawa Barat, dan turut dihadiri oleh sejumlah menteri Kabinet Merah Putih seperti Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri BUMN Erick Thohir.
Proyek besar itu sendiri merupakan hasil kerja sama antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), IBC, dan konsorsium global CATL, Brunp, serta Lygend (CBL).
Dalam keterangan kepada media, Direktur Penyidikan Kejaksaan Agung, Abdul Qohar, menyatakan bahwa Toto Nugroho memiliki andil signifikan dalam kasus yang turut menyeret nama pengusaha minyak kenamaan, Riza Chalid.
“Menyetujui DMUT/Supplier tersebut sebagai pemenang meskipun praktik pelaksanaan pengadaan tidak sesuai dengan prinsip dan etika pengadaan yaitu value based yang dicantumkan dalam lelang impor minyak mentah dan perlakuan istimewa kepada supplier tersebut,” kata Abdul Qohar pada Rabu, 9 Juli 2025.
Selain Toto, Kejaksaan Agung telah menetapkan total 18 tersangka dalam kasus ini. Beberapa di antaranya adalah Rivan Siahaan (Dirut Pertamina Patra Niaga), Riza Chalid dan putranya Muhammad Kerry Andrianto Riza, serta pejabat-pejabat penting lainnya seperti Sani Dinar Saifuddin, Yoki Firnandi, Agus Purwono, Gading Ramadhan Joedo, Dimas Werhaspati, Maya Kusmaya, Edward Corne, dan Alfian Nasution.
Deretan nama lainnya meliputi Hanung Budya, Dwi Sudarsono, Arif Sukmara, Hasto Wibowo, Martin Haendra Nata, hingga Indra Putra — semuanya merupakan individu dengan posisi strategis yang terlibat langsung dalam proses pengadaan maupun distribusi minyak di tubuh Pertamina.


