KITAINDONESIASATU.COM – Pernah marah? Tentu. Kita semua pasti pernah merasakan gejolak amarah. Bahkan para nabi, sahabat, dan ulama pun pernah marah. Tapi yang membedakan adala: atas dasar apa mereka marah dan bagaimana mereka menyikapinya.
Marah itu manusiawi, tapi membiarkan amarah meledak bisa membawa pada kekacauan, ucapan menyakitkan, merusak barang, menyakiti orang lain, hingga merusak kehormatan diri di hadapan Allah dan manusia.
Melansir NU Online, ada beberapa penjelasan tentang sisi negatif marah. Di antaranya: وَرُوِيَ أَنْ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مُرْنِي بِعَمَلٍ وَأَقْلِلْ، قَالَ: لَا تَغْضَبْ، ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: لَا تَغْضَبْ
Artinya: “Seorang laki-laki pernah meminta nasihat, ‘Wahai Rasulullah, perintahlah aku dengan sebuah perbuatan dan sedikitkanlah (jangan banyak-banyak).’ Nabi menjawab, ‘Jangan marah.’ Laki-laki tersebut mengulangi permintaannya, lalu Nabi tetap menjawab, ‘Jangan marah’.” (HR al-Bukhari).
Dalam riwayat lain disebutkan: وقال ابن مسعود قال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ قُلْنَا الَّذِي لَا تَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ لَيْسَ ذَلِكَ وَلَكِنِ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغضب “Ibnu Mas’ud berkata, Nabi bertanya, ‘Siapa yang kalian anggap sebagai orang yang perkasa?’ Kami menjawab, ‘Dia yang tidak bisa dikalahkan keperkasaannya oleh siapa pun.’ Nabi menimpali, ‘Bukan demikian, akan tetapi yang perkasa adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah’.” (HR Muslim).
5 Cara Cerdas Menahan Amarah Menurut Imam al-Ghazali
Menurut Imam al-Ghazali, cara menahan amarah terbagi dua, yakni dengan ilmu dan dengan amal.
Dengan Ilmu:
- Pikirkan pahala besar dari menahan marah, memaafkan, dan bersikap ramah.
- Takutlah pada azab Allah jika kita meluapkan amarah tanpa kontrol.
- Ingat dampak buruk di dunia, seperti permusuhan, balas dendam, dan jatuhnya harga diri.
- Bayangkan betapa buruknya wajah dan perilaku saat marah. Apakah kita ingin menyerupai binatang buas atau meniru kelembutan para nabi?
- Sadari bisikan setan: “Kau jadi lemah kalau nggak melawan.” Tapi hati-hati, jangan sampai takut terlihat lemah di dunia, tapi malah jadi hina di akhirat.
Dengan Amal:
- Ucapkan ta’awudz: A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.
- Ubah posisi tubuh: Berdiri? Duduklah. Duduk? Berbaringlah.
- Ambil wudhu dengan air dingin. Sebab marah itu dari api, dan api hanya bisa dipadamkan dengan air.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar, bijak, dan mudah memaafkan, bukan hamba yang dikuasai nafsu amarah. (*)

