Hery, yang memiliki latar belakang tata kota, memberikan pandangan mendalam terkait fenomena banjir. “Secara prinsip, air selalu mengalir dari dataran tinggi ke rendah sesuai kontur yang ada. Namun, perubahan lingkungan oleh manusia, seperti pembangunan di jalur aliran air dan sedimentasi, mempersempit badan air sehingga air meluap saat hujan deras,” paparnya.
Ia juga menyebut bahwa perubahan tata guna lahan di daerah hulu memperburuk situasi. Air yang seharusnya terserap justru langsung mengalir ke saluran, meningkatkan debit air di hilir. Ditambah lagi, perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan turut menyumbang masalah.
“Gabungan antara cuaca ekstrem, debit air yang meningkat, kapasitas badan air yang terbatas, dan budaya masyarakat menjadi penyebab utama banjir. Untuk itu, normalisasi saluran, pembuatan embung, dan penataan sempadan sungai menjadi solusi yang harus diupayakan,” tegasnya.
Hery juga menekankan pentingnya pembebasan lahan untuk mendukung pembangunan infrastruktur penanganan banjir. “Kalau kita bicara embung atau kolam retensi, pasti memerlukan lahan yang cukup,” ujarnya.
Usai meninjau tiga lokasi rawan banjir, Hery melanjutkan kunjungan ke Pos Pantau Bendung Katulampa untuk memantau debit air bersama rombongan. Peninjauan ini menjadi langkah awal menuju perencanaan penanganan banjir yang lebih sistematis dan berkelanjutan. (Nick/aps)


